Memuat...

Penulis “Israel”: Dunia Akan Jijik Saat Tahu Kejahatan Kami di Gaza

Samir Musa
Rabu, 16 Juli 2025 / 21 Muharam 1447 18:01
Penulis “Israel”: Dunia Akan Jijik Saat Tahu Kejahatan Kami di Gaza
Penulis “Israel”: Dunia Akan Jijik Saat Tahu Kejahatan Kami di Gaza

Al-QUDS (Arrahmah.id) – Penulis dan jurnalis “Israel”, Kobi Niv, melancarkan kritik pedas terhadap para politisi yang membenarkan kelanjutan perang genosida di Gaza. Dalam tulisannya di surat kabar Haaretz, ia memperingatkan bahwa begitu perang berakhir dan dunia melihat apa yang benar-benar terjadi, maka “Israel” akan menjadi negara yang terbuang dan terkutuk di mata internasional.

Niv menyatakan bahwa ia sebelumnya telah menulis bahwa semua orang Zionis akan menanggung konsekuensi dari perang di Gaza. Ia menyebut bahwa secara ideologis, mereka semua—termasuk oposisi—adalah ekstremis kanan, dan salah satu contohnya adalah Yair Lapid, anggota Knesset sekaligus pemimpin oposisi.

Struktur Politik yang “Ekstrem”

Dalam artikelnya, Niv mengecam Lapid karena secara terbuka membela pemecatan anggota parlemen Arab, Ayman Odeh. Ia menyebut Lapid sebagai "bodoh" karena membenarkan tindakan tersebut, sementara diam terhadap seruan para politisi “Israel” garis keras yang menyerukan pembunuhan dan pengusiran warga Gaza—termasuk lansia, perempuan, dan anak-anak.

Niv menilai bahwa Lapid, yang mengklaim sebagai politisi moderat, justru mengadopsi agenda sayap kanan ekstrem. Ia tak pernah menyerukan pemecatan politisi “Israel” yang menyuarakan ujaran kebencian dan kekerasan terhadap rakyat Palestina, tetapi justru mengejar pemecatan Ayman Odeh hanya karena Odeh mengatakan bahwa “Gaza akan menang”—sebuah pernyataan yang menurut Niv termasuk dalam kebebasan berekspresi, bukan dukungan terhadap “terorisme”.

Menjadi Negara Terbuang

Kritik Niv semakin tajam saat ia mengutip kolumnis sayap kanan “Israel”, Avri Gilad, yang menyatakan dalam tulisannya di Israel Hayom bahwa hal yang paling menakutkan bagi “Israel” adalah “hari setelah perang Gaza”.

"Hari di mana perbatasan dibuka, media internasional masuk, dan dunia melihat bahwa Gaza dan Rafah telah lenyap. Semuanya tampak seperti bekas ledakan bom nuklir,” tulis Gilad.

Ia menambahkan bahwa rakyat, militer, dan pemerintah “Israel” harus bersiap menghadapi pertanyaan dunia internasional dan serbuan gambar-gambar kehancuran, yang memperlihatkan bagaimana Gaza dan penduduknya benar-benar dihapus dari muka bumi.

Menurut Niv, ketika hari itu tiba, “Israel” akan menjadi negara paria yang dijauhi dunia, dan para tokoh seperti Gilad, Lapid, dan politisi lainnya akan menghadapi potensi perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag atas dukungan mereka terhadap kejahatan perang.

Ia menutup tulisannya dengan menyimpulkan bahwa ketakutan terhadap hari itu menjadi salah satu alasan utama mengapa elite politik “Israel” terus menolak menghentikan perang di Gaza, apa pun biayanya.

(Samirmusa/arrahmah.id)