WASHINGTON (Arrah.ah.id) — Krisis antara Amerika Serikat dan Iran kini tak lagi sekadar konflik geopolitik, melainkan berubah menjadi ujian besar bagi wibawa Presiden AS, Donald Trump, di panggung internasional.
Dalam analisis yang dimuat media Inggris The i Paper, disebutkan bahwa upaya mencapai gencatan senjata kini bukan lagi sekadar pencapaian diplomatik, melainkan lebih sebagai jalan untuk menghindari “penghinaan politik” bagi Trump.
Penulis Paul Wood menilai bahwa tantangan utama bukan hanya mencapai kesepakatan, tetapi bagaimana “menyelamatkan Trump dari rasa malu” di tengah kelemahan tim negosiasinya.
“Pertanyaan utamanya adalah: apakah Iran akan membiarkan Trump menyelamatkan muka?” tulis Wood, merujuk pada posisi Iran yang dinilai lebih unggul dalam pengalaman diplomasi.
Penyambutan Pakistan terhadap delegasi Amerika (afp)
Analisis tersebut menggambarkan tim negosiasi AS sebagai tidak konvensional dan minim pengalaman. Di dalamnya terdapat menantu Trump, Jared Kushner, utusan khusus Timur Tengah Steve Witkoff, serta wakilnya JD Vance.
Mereka disebut harus berhadapan dengan negosiator Iran yang “terampil dan berpengalaman”, menciptakan ketimpangan mencolok dalam meja perundingan.
Wood juga menyoroti keterbatasan pemahaman Witkoff terhadap isu nuklir Iran, yang oleh sejumlah pihak dinilai “dangkal”. Kondisi ini memperbesar risiko kegagalan diplomasi, bahkan memunculkan dugaan bahwa eskalasi konflik sebelumnya bisa jadi dipicu oleh kesalahpahaman dalam proses negosiasi.
Dalam narasinya, Trump digambarkan lebih mengandalkan tekanan dan unjuk kekuatan ketimbang pendekatan diplomasi klasik, termasuk melalui ancaman militer dan serangan yang disebut telah menghancurkan salah satu jembatan penting di Iran.
Kedatangan delegasi negosiasi Iran ke Pakistan (EPA)
Selain itu, konflik kepentingan juga menjadi sorotan, terutama terkait Kushner yang memiliki hubungan finansial dengan sejumlah negara Teluk yang berkepentingan dalam konflik tersebut. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang memengaruhi arah kebijakan luar negeri AS.
Di sisi lain, JD Vance—mantan marinir AS yang pernah bertugas di Iraq—dipandang memiliki pendekatan berbeda. Ia dikenal menentang “perang tanpa akhir”, sehingga keberhasilan mencapai kesepakatan damai dapat menjadi modal politik besar baginya, termasuk peluang dalam pemilihan presiden 2028.
Namun, jurang perbedaan antara kedua pihak masih sangat lebar. Washington menuntut penghentian total pengayaan uranium dan pembongkaran program nuklir Iran, sementara Tehran bersikeras mempertahankan “hak kedaulatan”-nya serta menuntut pencabutan sanksi dan jaminan keamanan.
Di tengah kebuntuan ini, analisis tersebut menegaskan bahwa keunggulan militer Amerika belum tentu berbanding lurus dengan kemenangan politik.
“Anda bisa memenangkan semua pertempuran, namun tetap kalah dalam perang,” tulis Wood.
Dengan demikian, tujuan utama Washington kini dinilai bukan lagi meraih kemenangan mutlak, melainkan menghindari kekalahan moral—dalam negosiasi yang bukan hanya menentukan arah konflik, tetapi juga masa depan citra kepemimpinan Amerika Serikat di mata dunia.
(Samirmusa/arrahmah.id)
