WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump memastikan eksekusi mati Nidal Malik Hasan, mantan psikiater militer yang membunuh 13 orang dalam penembakan di pangkalan militer Fort Hood pada 2009, tidak akan disiarkan langsung ke publik. Keputusan yang diumumkan pada Kamis (15/10/2026), itu membatalkan rencana Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk menayangkan eksekusi dengan regu tembak yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Desember mendatang.
Melalui unggahan di media sosial, seperti dilansir ABC News (15/10), Trump menyatakan eksekusi Hasan tetap dilaksanakan sesuai jadwal, tetapi tanpa siaran langsung. Ia sebelumnya menilai tayangan tersebut dapat menjadi peringatan bagi dunia mengenai konsekuensi tindakan terorisme.
Keputusan itu muncul setelah rencana Pentagon menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk sejumlah anggota Partai Republik, pemimpin agama, dan Wakil Presiden JD Vance. Hegseth sebelumnya menyatakan siaran langsung diperlukan agar masyarakat memahami konsekuensi serius dari serangan seperti yang dilakukan Hasan.
Penolakan masyarakat turut memperkuat tekanan terhadap pemerintah. Jajak pendapat ABC News, The Washington Post, dan Ipsos yang dilakukan pada 9–13 Oktober terhadap 2.545 orang dewasa di AS menemukan sekitar 80 persen responden menolak eksekusi Hasan disiarkan langsung.
Meski demikian, 53 persen responden mendukung pelaksanaan eksekusi dengan regu tembak, sedangkan 42 persen menentangnya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap hukuman mati tidak otomatis berarti persetujuan terhadap penayangannya kepada publik.
Hasan dinyatakan bersalah oleh pengadilan militer atas pembunuhan berencana terhadap 13 orang dan percobaan pembunuhan terhadap 32 orang dalam serangan di Fort Hood, Texas, pada 5 November 2009. Saat itu, ia merupakan mayor Angkatan Darat AS dan bekerja sebagai psikiater militer.
Serangan tersebut menargetkan personel militer yang berada di pangkalan untuk mempersiapkan penugasan ke luar negeri. Hasan kemudian ditembak aparat dan mengalami kelumpuhan dari pinggang ke bawah.
Menurut laporan Reuters dan Al Jazeera, eksekusi pada 3 Desember akan menggunakan regu tembak dan menjadi eksekusi militer AS pertama sejak 1961 jika terlaksana sesuai jadwal. (hanoum/arrahmah.id)
