Memuat...

Trump Ejek Nama Muhammad, Singgung Dunia Muslim

Hanoum
Senin, 19 Oktober 2026 / 9 Jumadilawal 1448 05:07
Trump Ejek Nama Muhammad, Singgung Dunia Muslim
Presiden AS Donald Trump menunjuk saat meninggalkan acara kampanye di Dalton, Georgia, AS 16 Oktober 2026. [Foto: REUTERS/Elijah Nouvelage]

GEORGIA (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuai sorotan setelah melontarkan lelucon tentang nama Muhammad yang umum digunakan umat Islam. Dalam pidato kampanye di Dalton, Georgia, pada Jumat (16/10/2026), Trump menyebut seseorang dari Timur Tengah kemungkinan besar bernama “Muhammad” dan mengklaim tebakannya memiliki peluang benar hingga 65 persen.

“Jika ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, cukup panggil ‘Muhammad’,” kata Trump kepada para pendukungnya, sebagaimana dilaporkan Reuters (17/10).

Ia menambahkan bahwa dirinya telah menggunakan cara tersebut selama bertahun-tahun dan mengaku tidak pernah salah. Trump kemudian melanjutkan leluconnya dengan membayangkan sejumlah orang bernama Muhammad menolak jabatan presiden Iran.

Pidato tersebut berlangsung di hanggar Bandara Municipal Dalton, Georgia, dalam agenda kampanye untuk mendukung kandidat Partai Republik.

Saat membahas Iran, Trump juga menyindir jabatan presiden negara itu dengan mengatakan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara yang tidak memiliki orang yang ingin menjadi presiden. Saat ini, jabatan tersebut dipegang Masoud Pezeshkian, yang menjabat sejak 2024.

Nama Muhammad—dengan berbagai variasi ejaan seperti Mohammad, Mohamed, dan Mohammed—memang termasuk nama laki-laki yang sangat umum di kalangan Muslim. Banyak keluarga Muslim memberikan nama tersebut kepada anak laki-laki sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad, tokoh sentral dalam agama Islam.

Pernyataan itu muncul di tengah sorotan terhadap retorika Trump mengenai umat Islam dan warga keturunan imigran dalam kampanye politik AS. Sebelumnya, Trump juga berulang kali menyerang Abdul El-Sayed, kandidat Demokrat untuk Senat dari Michigan yang beragama Islam dan memiliki latar belakang keluarga Mesir.

Dalam video kampanye terpisah, Trump menyebut El-Sayed dengan nama “Mohamed” dan menuduhnya memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, meskipun El-Sayed membantah tuduhan tersebut.

Media internasional, termasuk The Guardian, menyoroti bahwa penggunaan nama dan identitas Muslim dalam serangan politik terhadap El-Sayed memicu kritik dari sejumlah tokoh Demokrat dan pengamat yang menilainya bernuansa Islamofobik.

Kontroversi ini berlangsung menjelang pemilihan paruh waktu AS, ketika persaingan politik antara Partai Republik dan Demokrat semakin tajam. Selain menentukan komposisi Kongres, kampanye tersebut juga memperlihatkan bagaimana isu agama, identitas etnis, dan imigrasi digunakan dalam perdebatan politik nasional. (hanoum/arrahmah.id)