Memuat...

Abu Ubaidah Muncul Kembali, Tegaskan Perlawanan Total dan Tolak Pelucutan Senjata di Gaza

Zarah Amala
Senin, 6 April 2026 / 18 Syawal 1447 12:05
Abu Ubaidah Muncul Kembali, Tegaskan Perlawanan Total dan Tolak Pelucutan Senjata di Gaza
Al-Qassam tolak pelucutan senjata dan syaratkan pembukaan Rafah (Foto: tangkapan video)

GAZA (Arrahmah.id) - Juru bicara militer Brigade Al-Qassam, Abu Ubaidah, memberikan pidato publik pertamanya sejak penunjukannya akhir tahun lalu. Dalam pidato yang dinantikan tersebut, ia menyampaikan pesan keras terkait dinamika politik di Gaza, situasi di Masjid Al-Aqsha, serta keterhubungan perlawanan Palestina dengan konflik regional di Iran, Lebanon, dan Yaman.

Pesan utama Abu Ubaidah berfokus pada penolakan tegas untuk melanjutkan ke tahap berikutnya dari perjanjian penghentian perang, kecuali tuntutan tahap pertama dipenuhi sepenuhnya. Tuntutan tersebut meliputi pembukaan kembali Gerbang Rafah, akses pengobatan bagi pasien dan masuknya bantuan kemanusiaan secara masif serta aktivasi komite Teknokrat yang dipimpin oleh Ali Shaath.

Analisis dari pakar politik Ahmed al-Hila menyebutkan bahwa Al-Qassam secara terbuka menolak rencana internasional, termasuk usulan utusan PBB Nickolay Mladenov, yang berupaya melakukan pelucutan senjata perlawanan sebelum hak-hak rakyat Palestina terjamin.

Abu Ubaidah juga menyoroti situasi darurat di Yerusalem, khususnya penutupan Masjid Al-Aqsha yang disebutnya tidak pernah terjadi selama berabad-abad, serta pengesahan undang-undang Hukuman Mati bagi tahanan Palestina oleh 'Israel'. Ia menyerukan kepada umat Islam dan kaum muda untuk mengaktifkan kembali perlawanan, baik di dalam maupun di luar Palestina, guna menggagalkan ambisi 'Israe'l yang memanfaatkan perang regional untuk menekan tempat suci tersebut.

Visi "Israel Raya" dan Persatuan Front

Dalam pidatonya, Abu Ubaidah menghubungkan perjuangan di Gaza dengan krisis yang menimpa Iran, Lebanon, dan Yaman. Ia memperingatkan bahwa 'Israel' sedang berupaya mewujudkan visi Israel Raya dan menggambar ulang peta kawasan dengan memanfaatkan konflik yang ada untuk mempermanenkan pendudukan dan blokade.

Pengamat urusan 'Israel', Mohanad Mustafa, menilai pidato ini sebagai seruan untuk menyatukan medan tempur. Abu Ubaidah menekankan agar faksi-faksi perlawanan tidak terganggu oleh pertempuran sampingan dan tetap menempatkan 'Israel' sebagai prioritas utama musuh bersama.

Pidato ini merupakan kemunculan perdana Abu Ubaidah setelah periode panjang sejak ia mengumumkan gugurnya juru bicara sebelumnya, Hudhayfah al-Kahlout, serta sejumlah komandan tinggi Al-Qassam termasuk Muhammad Sinwar, Muhammad Shabana, dan Raed Saad pada akhir tahun lalu.

Kemunculan ini dinilai oleh para ahli sebagai upaya untuk mengembalikan isu Palestina ke jantung konflik regional di saat dunia internasional terfokus pada konfrontasi langsung antara Amerika Serikat, 'Israel', dan Iran. (zarahamala/arrahmah.id)