Memuat...

Analis “Israel” Bongkar Kegagalan Perang Gaza: Hamas Masih Tegak, Perang Tanpa Tujuan!

Samir Musa
Kamis, 3 Juli 2025 / 8 Muharam 1447 22:30
Analis “Israel” Bongkar Kegagalan Perang Gaza: Hamas Masih Tegak, Perang Tanpa Tujuan!
Analis “Israel” Bongkar Kegagalan Perang Gaza: Hamas Masih Tegak, Perang Tanpa Tujuan!

TEL AVIV (Arrahmah.id) — Analis “Israel” Avi Yisaskharof menilai bahwa perang di Jalur Gaza telah berubah menjadi “tujuan itu sendiri”, tanpa adanya horizon politik yang jelas untuk mengakhiri konflik. Ia menekankan bahwa kekuatan militer “Israel” telah mencapai batasnya setelah hampir 21 bulan operasi bertubi-tubi yang gagal mewujudkan tujuan utamanya: menjatuhkan pemerintahan Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah (Hamas).

Dalam artikelnya di surat kabar Yedioth Ahronoth, Yisaskharof menyoroti pengumuman berulang militer penjajah tentang korban jiwa di pihak tentaranya. Terbaru, seorang sersan bernama Yaniv Mishalovitz dilaporkan tewas dan delapan lainnya terluka akibat serangan perlawanan Palestina di kawasan Syujaiyah, sebelah utara Gaza City, pada Rabu (3/7).

Ia menyebut bahwa tentara “Israel” telah melakukan sejumlah operasi di wilayah yang sama sebelumnya, seperti di Syujaiyah dan Khan Younis, tempat tujuh prajurit dari unit teknik tempur Divisi 36 tewas sepekan lalu. Setiap operasi selalu diiringi dengan pernyataan resmi bahwa “kekalahan Hamas sudah dekat” atau bahwa kelompok tersebut “akan segera runtuh”.

Namun menurut Yisaskharof, kenyataan menunjukkan bahwa “Hamas masih berdiri tegak”, meski terus dihantam serangan. “Mungkin Hamas tidak lagi seterorganisir dan seterlatih seperti dulu, namun kekuatan yang dimilikinya masih cukup untuk mencegah perubahan realitas di Gaza,” tulisnya.

Retorika Militer yang Kontradiktif

Yisaskharof mengutip pernyataan seorang perwira tinggi dari Komando Selatan yang mengatakan bahwa tentara “Israel” masih terus membongkar kekuatan Hamas, membunuh para pemimpinnya, dan mencegah bantuan kemanusiaan sampai ke tangan mereka. Sang perwira juga membanggakan pencapaian membagikan 150 juta porsi makanan kepada warga Gaza, dengan dalih “memecah hubungan antara Hamas dan warga sipil”.

Namun bagi Yisaskharof, justru klaim itu memperlihatkan kebingungan arah. Ia bertanya-tanya apakah kini “Israel” sedang memikul tanggung jawab administratif terhadap Gaza, sesuatu yang selama bertahun-tahun justru ingin mereka hindari.

“Barangkali sang perwira tinggi berniat memberi selamat kepada dirinya sendiri, tapi pada kenyataannya ia justru mengakui kegagalan posisi militer ‘Israel’,” tulisnya.

Hamas Bangkit dan Rekrut Pemuda Baru

Menurut Yisaskharof, meskipun militer “Israel” berhasil menghantam infrastruktur Hamas di beberapa wilayah, namun gerakan itu kini sedang membangun kembali kekuatannya di area lain yang tidak terjangkau oleh operasi militer, sekaligus merekrut generasi muda untuk memperkuat barisan perlawanan.

Ia juga menyebut bahwa harapan “Israel” terhadap keberhasilan operasi ‘Arabat Gideon’ untuk mengubah realitas lapangan tak pernah terwujud.

“Hamas belum tumbang, dan masyarakat Gaza pun belum menunjukkan tanda-tanda keluar menentangnya, meskipun ada sedikit suara sumbang di media sosial atau dari beberapa kabilah,” lanjutnya.

Menurutnya, Hamas saat ini menjadikan “bertahan hidup” sebagai satu-satunya tujuan dan, hingga saat ini, berhasil mewujudkannya.

“Upaya militer di Gaza sudah mencapai batasnya,” tegas Yisaskharof, seraya menambahkan bahwa menghancurkan lebih banyak lingkungan, membunuh ribuan pejuang Hamas, ataupun meratakan rumah-rumah warga, tidak mengubah realitas apapun.

Ia menyindir para petinggi Komando Selatan yang mencoba tampil sebagai penyelamat “Israel” dari Hamas, namun nyatanya hanya mengulangi hal yang sama selama hampir dua tahun tanpa hasil.

Solusi Politik Tak Terelakkan

Yisaskharof juga mengungkap tingginya kerugian di pihak militer “Israel”, dengan 20 tentara tewas hanya pada bulan Juni 2025 di Gaza. Namun hingga kini, tak satu pun tawanan “Israel” yang berhasil dibebaskan dari tangan Hamas.

Ia menyimpulkan bahwa jika “Israel” menginginkan perubahan mendasar di Gaza, maka ia harus membantu membentuk pemerintahan alternatif untuk menggantikan Hamas. Menurutnya, itu satu-satunya cara untuk mewujudkan janji Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang bersumpah akan “menghapus Hamas dari Gaza”.

Di akhir artikelnya, Yisaskharof menegaskan bahwa perang di Gaza harus dihentikan, karena tidak membawa perubahan politik meski berlangsung lama. Ia menyatakan bahwa aksi militer seharusnya menjadi sarana, bukan tujuan itu sendiri.

Ia pun menyerukan agar “Israel” bekerjasama dengan negara-negara Arab moderat, Amerika Serikat, dan bahkan Otoritas Palestina, untuk menghindari jebakan lumpur Gaza.

Namun ia lupa menyadari satu hal penting: bahwa solusi politik sejati tak akan pernah lahir dari tekanan luar, melainkan dari kehendak rakyat Palestina sendiri.

(Samirmusa/arrahmah.id)