Memuat...

Runtuhnya Hegemoni Barat, Menunggu Bom Waktu

Oleh Ummu Raffi
Ahad, 12 April 2026 / 24 Syawal 1447 10:31
Runtuhnya Hegemoni Barat, Menunggu Bom Waktu
(Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein)

Beberapa waktu lalu, dunia dikejutkan oleh gelombang unjuk rasa besar-besaran yang terjadi di Amerika Serikat. Jutaan warga di beberapa kota AS, bahkan merambah ke berbagai negara, tumpah ruah turun ke jalan pada Sabtu, 28 Maret 2026. Pekikan satu suara lantang pun menggema bertajuk “No Kings.” Demonstrasi ini, bukan sekadar aksi protes biasa, melainkan sebagai simbol perlawanan, akumulasi kemarahan publik terhadap kebijakan penguasa AS yang semakin agresif dan otoriter, serta mengabaikan jeritan ekonomi warganya. Presiden AS Donald Trump, kini tidak hanya berhadapan dengan konflik global, akan tetapi krisis legitimasi di hadapan rakyatnya sendiri.

Pada saat yang sama, data ekonomi Amerika Serikat semakin terpuruk. Utang nasional AS resmi mencapai US$ 39 triliun, tercatat Maret 2026. Jumlah tersebut bukan hanya angka, melainkan sebuah bom waktu yang mengancam stabilitas negara adidaya. Beban ini pun diperparah oleh biaya konflik yang meningkat di Timur Tengah, dan ambisi mempertahankan dominasi global. Berdampak, utang tersebut dibebankan kepada setiap penduduk AS sebesar Rp 1,93 miliar. Hal ini, memposisikan negara adikuasa di ambang kebangkrutan. (cnbcindonesia.com, 28/3/2026)

Dengan begitu, masih jumawa kah Amerika bertahan akan hegemoninya dengan utang dan kekuatan militer?

Menilik narasi mengenai Amerika Serikat sebagai penjaga stabilitas dunia, kini semakin menunjukkan kehilangan makna. Kebijakan luar negeri yang syarat akan kepentingan, termasuk dukungan brutal terhadap Israel, juga upaya memerangi Iran dan negeri muslim lainnya. Hal ini menyingkap tabir asli, dan mempertegas standar ganda yang selama ini dipraktikkan AS. Namun sayang, dunia telah melihat dengan jelas, di balik jargon demokrasi, dan paham kebebasannya (liberalisme). Terdapat kepentingan politik, dan ekonomi yang tidak selalu mengutamakan keadilan rakyatnya.

Terlebih, rapuhnya solidaritas sekutu Barat membuktikan bahwa, dominasi Amerika Serikat tidak lagi absolut. Ketidakharmonisan dengan negara-negara Eropa, dan lemahnya pengaruh di berbagai kawasan menjadi alarm bergesernya tatanan global. Kini, dunia tak lagi sepenuhnya berada di bawah payung satu kekuatan.

Realitas ini, seharusnya menjadi momentum refleksi bagi dunia Islam. Beragam konflik yang makin masif pada intervensi asing, serta ketergantungan politik terhadap kekuatan global, menjadikan umat semakin tak berdaya. Tidak sedikit para penguasa negeri Muslim yang terjebak dalam kepentingan asing, alih-alih melindungi rakyat, justru terperosok ke dalamnya.

Kini saatnya umat menyadari bahwa, sistem global yang tengah bercokol hari ini terbukti gagal, dan merusak. Sistem yang hanya membuat kerusakan tatanan dunia, dan kehancuran antar bangsa. Sistem yang syarat kepentingan, dan kerap melahirkan ketidakadilan, serta menumbuhsuburkan eksploitasi melalui utang dan pajak. Karena itu, dalam perspektif Islam. Solusi mendasar tidak cukup sekadar perubahan kebijakan, dan pergantian aktor pemimpin, tetapi membutuhkan revolusi sistem yang lebih adil dan komprehensif.

Untuk itu, umat perlu memahami bahwa Islam bukan sebatas ibadah ritual, melainkan sebuah ideologi politik yang mampu menawarkan seperangkat aturan kehidupan lebih konkret dan fundamental. Termasuk aspek politik, ekonomi, sosial, hingga hubungan internasional di dalamnya. Agar kehidupan berjalan sesuai syariat, maka dibutuhkan penyadaran kepada umat dengan dakwah menyampaikan Islam kaffah atas solusi setiap permasalahan.

Hukum Islam akan terealisasi dengan sempurna, manakala ada institusi negara yang mampu menerapkannya. Selain dari pilar individu, dan masyarakat. Ketiga pilar tersebut harus sinkron dalam upaya pelaksanaannya. Kepemimpinan Islam ini, memiliki rujukan sebagai sistem pemerintahan yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Inilah yang tercatat dalam sejarah peradaban gemilang, bahwa sistem pemerintahan Islam pernah berkuasa selama 1400 tahun, dan menguasai 2/3 bagian dunia. Kesejahteraan terjamin, kemaslahatan pun dirasakan seluruh umat, baik muslim maupun non muslim.

Oleh karena itu, jika hari ini kapitalisme tengah menuju arah kehancuran dan kebangkrutan pasca melemahnya hegemoni Barat. Maka, Islam memberikan solusi bukan sekadar ilusi, melainkan sebuah konsep peradaban yang mumpuni. Satu-satunya sistem shahih, mampu menggantikan tatanan global yang rusak. Dengan diterapkannya hukum Allah di semua lini kehidupan, sehingga keberkahan, keadilan, dan kemuliaan dapat membawa rahmat bagi seluruh alam.

Wallahua'lam bis shawwab

Editor: Hanin Mazaya