Memuat...

Buntu! Wakil Presiden Amerika JD Vance: AS Pulang Tanpa Kesepakatan dengan Iran

Samir Musa
Ahad, 12 April 2026 / 24 Syawal 1447 11:40
Buntu! Wakil Presiden Amerika JD Vance: AS Pulang Tanpa Kesepakatan dengan Iran
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyampaikan pernyataan terkait gagalnya perundingan dengan Iran dalam konferensi pers di Washington.(istimewa)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Wakil Presiden Amerika Serikat, J. D. Vance, mengumumkan bahwa perundingan antara Washington dan Teheran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan berakhir tanpa kesepakatan, lansir Al Jazeera (12/4/2026).

Dalam pernyataan pers yang disampaikan dari Islamabad, Vance mengatakan bahwa kegagalan ini justru lebih merugikan pihak Iran dibandingkan Amerika Serikat.

“Kami akan kembali ke Washington tanpa mencapai kesepakatan dengan pihak Iran,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kedua delegasi telah berunding selama sekitar 21 jam, namun tidak berhasil menemukan titik temu yang dapat diterima kedua belah pihak. Menurutnya, delegasi Iran menolak memberikan komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir—sebuah tuntutan utama Presiden AS, Donald Trump.

Vance juga mengungkapkan bahwa selama proses negosiasi, ia berkomunikasi langsung dengan Trump sebanyak enam kali, serta berkoordinasi dengan pejabat tinggi militer dan anggota Kongres. Ia turut memuji peran pemerintah Pakistan yang dinilai telah berupaya keras menjembatani perbedaan antara kedua pihak.

“Kami datang untuk bernegosiasi dengan itikad baik, namun tidak berhasil mencapai kesepakatan yang dapat diterima bersama,” tambahnya.

Ia juga menyinggung bahwa “fasilitas nuklir Iran telah dihancurkan”, namun menegaskan bahwa Teheran tetap tidak bersedia menghentikan program nuklirnya.

Vance menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Amerika Serikat telah menawarkan “yang terbaik” dalam perundingan tersebut.

Kegagalan ini menjadi pukulan bagi optimisme yang sebelumnya muncul, menyusul laporan tentang kemungkinan digelarnya putaran negosiasi kedua atas permintaan Pakistan.

Di sisi lain, Trump sebelumnya mengancam akan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan kekuatan militer jika Iran tidak segera melakukannya. Sementara itu, media Iran melaporkan bahwa Washington mengajukan sejumlah syarat yang dianggap Teheran sebagai “berlebihan”, khususnya terkait kebebasan navigasi di kawasan tersebut.

(Samormusa/arrahmah.id)