RAMALLAH (Arrahmah.id) - Gelombang kekerasan melanda berbagai wilayah di Tepi Barat pada Senin (2/2/2026), melibatkan serangan terorganisir oleh kelompok pemukim 'Israel' dan operasi militer yang mengakibatkan sejumlah warga Palestina terluka. Insiden ini mencakup penyerangan fisik, perusakan lahan pertanian, hingga penyitaan properti pribadi.
Di Hebron selatan, kelompok pemukim bersenjata dari pos pemeriksaan "Shini" menyerang rumah keluarga Al-Daghamin di Khirbet al-Kharaba. Aktivis anti-pemukiman, Osama Makhamra, melaporkan bahwa serangan yang dikawal oleh tentara Israel tersebut mengakibatkan satu warga luka parah akibat pemukulan, sementara seorang wanita dan pemuda pingsan setelah disemprot gas merica.
Kekerasan serupa pecah di Desa Jaljilya, utara Ramallah. Kelompok pemukim dilaporkan melepaskan tembakan ke arah rumah warga, menghancurkan panel surya, dan mencuri kamera pengawas. Ketegangan serupa terjadi di desa Al-Mughayir, Kafr Malik, dan Burqa, di mana pasukan 'Israel' melakukan penggerebekan menggunakan granat kejut.
Di Qalqilya, seorang warga dilarikan ke Rumah Sakit Darwish Nazzal dalam kondisi kritis setelah ditembak oleh pasukan 'Israel' di gerbang timur kota tersebut. Hingga kini, identitas korban masih dalam proses verifikasi.
Di Bethlehem selatan, tepatnya di Kota Al-Khader, buldoser militer 'Israel' mencabut sekitar 200 pohon anggur kuno di area "Umm Rukba". Wakil Walikota Al-Khader, Husni Issa, menyatakan bahwa lahan tersebut dihancurkan untuk kepentingan perluasan kolonial setelah pemiliknya menerima pemberitahuan penyitaan lahan.
Sementara itu, di kota Hizma, utara Yerusalem, pasukan Israel memaksa keluarga Ali Mohammed Othman Abu al-Helu meninggalkan kediaman mereka. Rumah tersebut kemudian disita dan diubah menjadi barak militer (tsakana) oleh tentara 'Israel'.
Sejak berakhirnya perang besar di Gaza pada 2025, serangan di Tepi Barat justru dilaporkan semakin intensif. Data resmi Palestina menunjukkan bahwa sejak Oktober 2023, sedikitnya 1.110 warga Tepi Barat tewas, 11.500 luka-luka, dan lebih dari 21.000 orang ditahan.
Pihak Palestina menilai bahwa eskalasi sistematis ini merupakan langkah awal bagi 'Israel' untuk mengumumkan aneksasi (pencaplokan) resmi Tepi Barat, yang secara praktis akan mematikan solusi dua negara (two-state solution) sesuai resolusi PBB. (zarahamala/arrahmah.id)
