NIAMEY (Arrahmah.id) -- Serangan mendadak oleh kelompok militan Islamic State (ISIS) di Diori Hamani International Airport, Niamey, Niger, menimbulkan kerusakan signifikan pada sejumlah fasilitas militer dan pesawat, lapor Reuters (2/2/2026).
Kelompok militanini menyerang dengan kendaraan bermotor sambil melepaskan tembakan dan ledakan, menimbulkan kerusakan berat pada sejumlah pesawat dan fasilitas militer.
Otoritas pertahanan Niger menyatakan bahwa para penyerang, yang bergerak menggunakan motor dan kemungkinan menggunakan drone, menyerbu area sekitar Air Base 101 yang berbatasan dengan bandara sipil. Pasukan keamanan, dibantu unit militer sekutu, berhasil mendorong mundur kelompok tersebut setelah pertempuran singkat.
Pemerintah Niger menyebutkan bahwa sekitar 20 militan tewas dan 11 lainnya ditangkap selama upaya pembelaan, sementara empat tentara Niger terluka akibat baku tembak, menurut laporan media internasional.
Beberapa pesawat sipil — termasuk milik Air Côte d’Ivoire dan ASKY Airlines — serta perlengkapan militer di area bandara dilaporkan mengalami kerusakan akibat tembakan dan ledakan yang terjadi di tarmac.
Rekaman yang disebarkan oleh kelompok militan menunjukkan bahwa para pejuang bebas bergerak di lapangan bandara tanpa banyak perlawanan awal, melepaskan tembakan ke arah kendaraan dan infrastruktur di sekitar area pangkalan.
Insiden ini terjadi di luar jam operasional penerbangan, sehingga tidak ada korban di antara penumpang atau awak maskapai sipil saat itu.
Serangan tersebut memicu kekhawatiran internasional karena bandara Niamey merupakan titik strategis yang juga menjadi basis kerjasama militer regional dan rumah bagi sejumlah fasilitas penting, termasuk depot uranium— komoditas penting yang berada di kawasan tersebut.
Pemerintah Niger serta sejumlah negara mitra mengecam keras aksi itu; serangan tersebut menandai salah satu serangan paling signifikan oleh kelompok ISIS di kawasan Sahel dalam beberapa waktu terakhir.
Kelompok militan seperti IS Sahel telah aktif di wilayah Sahel selama bertahun-tahun, menargetkan posisi militer dan sipil di Niger, Mali, dan Burkina Faso dalam serangkaian serangan yang memperparah krisis keamanan di kawasan tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
