RIYADH (Arrahmah.id) -- Arab Saudi secara resmi membantah laporan yang menyebut Riyadh mendorong serangan militer terhadap Iran oleh AS, dengan pejabat tinggi kerajaan menyatakan bahwa negara itu tetap mendukung dialog dan solusi damai sebagai jalan utama menyelesaikan ketegangan antara Washington dan Teheran.
Pernyataan ini dimuat di surat kabar Saudi Al-Sharq Al-Awsat (2/2/2026) dan dikutip oleh media lokal serta internasional pada 1 Februari 2026.
Menurut sumber kerajaan, Arab Saudi menolak anggapan bahwa Riyadh mendorong Washington untuk melancarkan agresi terhadap Tehran, dan menegaskan kembali komitmen terhadap diplomasi sebagai satu-satunya cara menyelesaikan perselisihan bilateral AS-Iran.
Saudi juga menolak penggunaan wilayah udara dan teritorinya untuk aksi militer terhadap Iran, sebagai bagian dari kebijakan yang berupaya menahan eskalasi konflik.
Langkah Saudi ini mengikuti sinyal meningkatnya upaya diplomasi internasional untuk mencegah perang antara AS dan Iran, termasuk pembicaraan nuklir yang dijadwalkan kembali di Istanbul dengan keterlibatan beberapa negara regional.
Perundingan tersebut bertujuan meredakan ketegangan yang telah memuncak akibat penempatan aset militer AS di Teluk dan tekanan internasional atas program nuklir Iran.
Selain itu, Duta Besar Iran untuk Saudi Arabia memuji apa yang disebutnya “posisi rasional” di kawasan yang mendukung dialog dan menolak konflik, dengan cuitan di platform X yang memuat bendera kedua negara sebagai simbol harapan akan penyelesaian perselisihan melalui pendekatan damai.
Arab Saudi sebelumnya juga menyuarakan keprihatinan bersama negara-negara Teluk lain atas potensi serangan AS terhadap Iran, yang dipandang bisa mengguncang stabilitas regional serta aliran minyak global lewat Selat Hormuz.
Riyadh bersama Oman dan Qatar dilaporkan secara diplomatik mengadvokasi kepada AS untuk menahan diri dari aksi militer langsung.
Pendekatan ini mencerminkan pergeseran kebijakan luar negeri Saudi yang kini lebih menekankan peran sebagai mediator dan menjaga stabilitas kawasan daripada terlibat langsung dalam konflik militer.
Hal ini juga sejalan dengan upaya menyeimbangkan hubungan dengan sekutu Barat sambil mengurangi risiko ketegangan yang lebih luas di Timur Tengah. (hanoum/arrahmah.id)
