Memuat...

Operasional Perdana Rafah, Bus Pertama Tiba di Gaza di Tengah Pemeriksaan Ketat 'Israel'

Zarah Amala
Selasa, 3 Februari 2026 / 16 Syakban 1447 11:10
Operasional Perdana Rafah, Bus Pertama Tiba di Gaza di Tengah Pemeriksaan Ketat 'Israel'
Kelompok pertama yang diizinkan masuk hanya terdiri dari perempuan dan anak-anak (Reuters)

GAZA (Arrahmah.id) - Bus pertama yang membawa warga Palestina dari Mesir akhirnya tiba di Jalur Gaza melalui Gerbang Perbatasan Rafah pada Senin (2/2/2026) malam. Ini merupakan hari pertama pengoperasian penuh perlintasan tersebut sejak ditutup total lebih dari satu setengah tahun yang lalu.

Meski menjadi simbol harapan, operasional hari pertama ini diwarnai dengan pembatasan ketat. Bus tersebut hanya membawa 12 penumpang, terdiri dari 9 wanita dan 3 anak-anak. Perjalanan yang biasanya singkat memakan waktu hingga 20 jam karena para penumpang harus menjalani pemeriksaan fisik yang teliti serta interogasi mendalam oleh militer 'Israel' di sepanjang Jalan Salah al-Din.

Rencana awal pengoperasian hari pertama menargetkan keberangkatan 50 pasien luka dari Gaza dan kepulangan 50 warga dari Mesir. Namun, fakta di lapangan menunjukkan ketimpangan besar, pihak 'Israel' hanya mengizinkan 5 pasien luka dengan 10 pendamping untuk keluar dari Gaza.

Pejabat medis Palestina menyatakan bahwa proses evakuasi medis mengalami keterlambatan signifikan akibat prosedur pemeriksaan 'Israel' yang sangat kaku. Padahal, diperkirakan ada sekitar 80.000 warga Palestina di Mesir yang saat ini masih menunggu giliran untuk pulang ke Gaza.

Pembukaan ini disambut baik oleh berbagai pihak, meski dianggap masih jauh dari cukup. Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, menegaskan Rafah harus menjadi koridor kemanusiaan sejati untuk bantuan penyelamat nyawa, bukan sekadar perlintasan terbatas.

Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut ini "langkah ke arah yang benar" dan mendesak implementasi penuh gencatan senjata demi menjamin aliran bantuan tanpa hambatan, sementara Ali Shaath, Ketua Komite Nasional untuk Manajemen Gaza, berharap pembukaan ini menjadi titik balik bagi pasien, pelajar, dan penyatuan kembali keluarga yang terpisah akibat perang.

Ironisnya, di hari yang sama dengan pembukaan gerbang, kekerasan militer masih terjadi di dalam Gaza. Sumber medis melaporkan jatuhnya korban jiwa di Khan Younis dan Jabalia akibat tembakan pasukan 'Israel' yang menyasar warga di luar zona operasi militer. Militer 'Israel' sendiri mengklaim telah menewaskan empat orang di dekat "Garis Kuning" Gaza Utara karena dianggap sebagai ancaman.

Di sisi administrasi, Hamas mengumumkan telah menyelesaikan prosedur penyerahan wewenang pemerintahan kepada Komite Nasional untuk Manajemen Gaza guna memulai proses pemulihan pasca-perang dua tahun. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlineIsraelPalestinaGazaperlintasan rafah