Memuat...

Keluarga Korban di Kunar Mengenang Kehilangan Akibat Operasi Militer Pasukan Asing

Hanin Mazaya
Selasa, 1 September 2026 / 20 Rabiulawal 1448 14:05
Keluarga Korban di Kunar Mengenang Kehilangan Akibat Operasi Militer Pasukan Asing
(Foto: Tolo News)

KUNAR (Arrahmah.id) - Tanggal 31 Agustus menandai peringatan penarikan tentara AS terakhir dari Afghanistan.

Bagi mereka yang anggota keluarganya tewas akibat ulah pasukan asing, rasa sakit karena kehilangan orang-orang tercinta masih membekas meski bertahun-tahun telah berlalu.

Keluarga para korban menyatakan bahwa kerabat mereka tidak memiliki afiliasi dengan kelompok mana pun, namun tewas di tangan pasukan asing, lansir Tolo News (1/9/2026).

Sayed Agha Jan, seorang warga Kunar, berkata: "Salah satu putri saya, yang tewas akibat ulah pasukan asing, dimakamkan di pemakaman ini. Saat saya melewati jalan ini untuk pulang, saya memalingkan wajah dari arah pemakaman karena melihat makam anak saya sangat menyakitkan dan membuat saya sangat sedih."

Tolo News berbicara dengan sebuah keluarga di Kunar yang menceritakan bahwa 39 anggota keluarga mereka—termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia—sedang berkumpul di sebuah ruangan gelap ketika mereka dibom oleh pasukan asing 14 tahun silam.

Pada 2012, pasukan AS menggerebek rumah Shakir, mengumpulkan anggota dari tiga keluarga di satu ruangan, lalu membom mereka.

Shakirullah berkata: "Pasukan asing menewaskan 26 anggota keluarga kami dalam penggerebekan pertama itu. Di antara 26 korban tewas tersebut, 19 orang di antaranya adalah cucu dari seorang kakek yang sama, sementara beberapa orang lainnya—termasuk perempuan dan anak-anak—mengalami luka parah."

Afghanistan, khususnya Nangarhar, menjadi saksi pertempuran, operasi militer, dan pengeboman hebat selama 20 tahun kehadiran militer AS. Sebagai bagian dari operasi tersebut, bom masif yang dikenal sebagai "Mother of All Bombs" juga dijatuhkan di distrik Achin, Nangarhar. Warga setempat masih mengenang masa-masa itu dengan rasa takut, ketidakpercayaan, dan kenangan pahit—kenangan yang terus membayangi kehidupan mereka bahkan setelah perang berakhir.

Dawlat Khan, seorang warga Nangarhar, berkata: "Pasukan asing menggunakan 'Mother of All Bombs' di wilayah kami. Banyak rumah warga di desa ini hancur lebur menjadi puing, dan tanaman pertanian kami terbengkalai. Saya memiliki lima anak, dan ketika saya kembali ke daerah asal saya bertahun-tahun kemudian, kelima ruangan di rumah saya sudah hancur." Salamat Khan, warga Kunar lainnya, mengatakan: "Saat pasukan AS berada di wilayah kami, hidup kami sangat sulit dan mereka membuat kehidupan kami menjadi sangat berat. Mereka memberlakukan pembatasan terhadap kami dan tidak mengizinkan jaringan telekomunikasi beroperasi. Pada malam-malam saat mereka melakukan penggerebekan, puluhan orang tewas. Jenazah dibiarkan begitu saja di wilayah kami hingga sebulan lamanya, dan burung-burung memakan jasad mereka yang tewas."

Seperti halnya keluarga Shakirullah, ribuan keluarga di seluruh Afghanistan terdampak oleh operasi militer asing.

Anggota keluarga-keluarga tersebut mengatakan bahwa meskipun telah bertahun-tahun berlalu, tidak ada pihak yang menindaklanjuti kasus mereka, dan mereka juga tidak menerima kompensasi atas kerabat mereka yang tewas.  (haninmazaya/arrahmah.id)