Memuat...

"Jebakan" Keffiyeh: Mantan Tentara "Israel" Menyamar untuk Menjebak Pendukung Palestina di New York

Samir Musa
Selasa, 1 September 2026 / 20 Rabiulawal 1448 07:37
"Jebakan" Keffiyeh: Mantan Tentara "Israel" Menyamar untuk Menjebak Pendukung Palestina di New York
Mantan tentara "Israel" menyamar dengan pakaian Palestina untuk mendekati dan menarik perhatian para demonstran di jalan-jalan New York (akun Instagram mereka)

NEW YORK (Arrahmah.id) — Sejumlah mantan tentara "Israel" dilaporkan menyamar sebagai pendukung Palestina dengan mengenakan keffiyeh dan membawa bendera Palestina di New York. Aksi tersebut dilakukan untuk menarik perhatian orang-orang yang mendukung Palestina agar mendekati sebuah meja kampanye pro-"Israel" di dekat Universitas Columbia.

Mereka tidak sekadar menggunakan atribut Palestina sebagai penyamaran. Berdasarkan pengakuan sejumlah anggota kelompok, penyamaran tersebut merupakan strategi yang sengaja dilakukan untuk mendekati dan mengajak berbicara orang-orang yang mendukung Palestina.

Dilansir dari Al Jazeera, Senin (31/8/2026), aksi tersebut dilakukan oleh anggota Front Line Advocates, sebuah organisasi nirlaba pro-"Israel". Organisasi itu mendirikan meja di dekat gerbang Universitas Columbia, tepatnya di persimpangan Broadway dan Jalan 116.

Di atas meja tersebut terpampang tulisan, "Kami adalah tentara Angkatan Darat 'Israel'. Kami pernah berada di Gaza. Tanyakan apa saja kepada kami."

Namun, di sekitar meja itu terlihat sejumlah orang mengenakan keffiyeh dan membawa bendera Palestina. Mereka ternyata bukan demonstran pro-Palestina, melainkan mantan tentara "Israel" yang sengaja menyamar.

Aktivis pro-"Israel", Chloe Smith, mengatakan kepada Columbia Daily Spectator bahwa strategi tersebut muncul setelah mereka melihat sedikit orang yang tertarik mendatangi meja kampanye pada hari pertama.

Mereka kemudian memutuskan menggunakan penyamaran agar lebih banyak orang tertarik dan akhirnya mendatangi meja tersebut.

Disebut sebagai "jebakan"

Salah satu anggota kelompok, aktivis Inggris-Israel yang dikenal sebagai Jewish Jess, bahkan secara terbuka menyebut metode tersebut sebagai "jebakan".

Dalam video yang diunggah melalui Instagram, ia mengatakan bahwa dua anggota Front Line Advocates menyamar sebagai demonstran pro-Palestina untuk mendekati orang-orang yang mendukung Palestina dan berada di sekitar lokasi kampanye.

Mantan tentara "Israel", Adi Karni, yang ikut dalam aksi penyamaran tersebut, juga berbicara mengenai efektivitas penggunaan keffiyeh.

Menurutnya, orang-orang lebih bersedia mendengarkannya ketika ia mengenakan keffiyeh dan tampil sebagai orang Palestina, bahkan ketika dianggap sebagai "teroris Hamas", dibandingkan saat ia memperkenalkan diri sebagai tentara "Israel".

Stav Cohen, mantan perwira cadangan militer "Israel" sekaligus salah satu pendiri Front Line Advocates, juga mengunggah pernyataan yang menyebut aksi tersebut sebagai bagian dari "misi rahasia" di New York.

Pernyataan para anggota kelompok tersebut menunjukkan bahwa penggunaan atribut Palestina bukan sekadar penampilan, tetapi menjadi bagian dari strategi untuk menjangkau orang-orang yang kemungkinan tidak akan berhenti jika mengetahui identitas sebenarnya dari mereka.

Dosen Columbia mengaku merasa tidak aman

Aktivitas tersebut juga memicu insiden dengan seorang anggota staf pengajar Universitas Columbia.

Dosen tersebut mengatakan kepada Columbia Daily Spectator bahwa ia mendatangi meja kampanye pada Selasa pekan lalu untuk menanyakan aktivitas yang sedang berlangsung.

Ia kemudian diberi tahu bahwa sejumlah tentara "Israel" berada di lokasi untuk menjawab pertanyaan.

Mahasiswa pendukung Palestina melanjutkan aksi protes mereka untuk hari kelima berturut-turut di sebuah area dalam kampus Universitas Columbia di New York, pada 21 April 2024 (Getty).

Namun, setelah mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki pertanyaan, ia mengaku mulai direkam dan dikelilingi anggota kelompok tersebut. Mereka juga disebut melontarkan pertanyaan yang dinilainya provokatif mengenai Hizbullah, Gaza, dan latar belakang dirinya.

Menurut keterangannya, seorang pria yang mengenakan masker ski kemudian mendekatinya. Ketika ia menanyakan identitas pria tersebut, ia diberi tahu bahwa orang itu berada di lokasi untuk "melindungi mereka".

"Saya merasa situasi tersebut mengkhawatirkan dan saya merasa tidak aman," ujarnya dalam pernyataan kepada media tersebut.

Ia meminta identitasnya tidak dipublikasikan karena khawatir menjadi sasaran tindakan balasan.

Aktivitas menyebar ke sejumlah lokasi di New York

Kampanye Front Line Advocates disebut tidak hanya berlangsung di sekitar Universitas Columbia.

Kelompok tersebut juga mendatangi sejumlah lokasi demonstrasi di New York, termasuk Washington Square Park dan Sekolah Hukum City University of New York.

Menurut situs organisasi tersebut, Front Line Advocates mengirim delegasi yang terdiri dari mantan tentara "Israel" dan aktivis pro-"Israel" ke kampus-kampus serta ruang publik.

Para peserta disebut menjalani pelatihan selama lima minggu untuk mempersiapkan mereka dalam mewakili "Israel" dan menyampaikan narasi yang mendukung negara tersebut.

Dalam kejadian terpisah, influencer Yahudi anti-Zionis David Spivak, yang dikenal dengan nama David Says Stuff, mengaku didekati sejumlah orang yang menyamar sebagai demonstran pro-Palestina di Washington Square Park.

Menurut Spivak, orang-orang tersebut memperkenalkan diri sebagai mahasiswa Palestina dari Gaza. Mereka kemudian menanyakan apakah dirinya mendukung "perlawanan" sebelum menunjukkan foto dan video korban serangan 7 Oktober 2023.

Adi Karni disorot karena aktivitasnya di Gaza

Nama Adi Karni kemudian menjadi sorotan lebih luas setelah sejumlah aktivis dan jurnalis kembali menyebarkan foto serta video yang mereka klaim memperlihatkan aktivitasnya selama bertugas di Gaza.

Hind Rajab Foundation menyebut Karni sebagai mantan sersan Batalion 603 Korps Zeni Tempur "Israel". Organisasi tersebut menuduhnya terlibat dalam operasi penghancuran dan perusakan sejumlah bangunan sipil serta fasilitas keagamaan di Gaza.

Hind Rajab Foundation mengatakan telah mengajukan sejumlah pengaduan hukum terhadap Karni, termasuk di Amerika Serikat. Organisasi tersebut juga menyatakan bahwa penyelidikan pidana pernah dibuka terhadapnya di Peru terkait dugaan kejahatan perang selama perang di Gaza.

Namun, tuduhan tersebut belum dibuktikan melalui putusan pengadilan final.

Hind Rajab Foundation mengatakan laporan yang mereka ajukan didasarkan pada materi video dan informasi dari sumber terbuka. Organisasi itu juga mengklaim telah mengidentifikasi Karni serta mendokumentasikan apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran yang dilakukan di Gaza.

Direktur Jenderal Hind Rajab Foundation, Diab Abu Jahjah, mengatakan pihaknya berhadapan dengan Karni di Universitas Columbia setelah mengetahui bahwa ia muncul dengan menyamar sebagai pendukung Palestina.

Ia menegaskan bahwa organisasi tersebut akan terus mengejar kasus Karni melalui jalur hukum.

Sejumlah aktivis juga kembali mengunggah informasi mengenai Karni dan unit militernya, termasuk video yang diklaim memperlihatkan keterlibatannya dalam operasi penghancuran di Gaza.

Jurnalis Amerika Serikat Max Blumenthal turut menyebarkan sebuah video yang menurutnya memperlihatkan Karni dalam aksi peledakan sebuah masjid di Gaza. Blumenthal mengaitkan video tersebut dengan kemunculan Karni kemudian mengenakan keffiyeh di depan Universitas Columbia.

Dipertanyakan karena menggunakan identitas Palestina

Aksi penyamaran tersebut kemudian memicu kritik dari aktivis hak asasi manusia dan sejumlah jurnalis.

Aktivis Inggris Shamin Suleiman menilai penyamaran menggunakan pakaian Palestina menunjukkan upaya memengaruhi opini publik Amerika dengan memanfaatkan identitas Palestina.

Menurutnya, persoalan utamanya bukan hanya penggunaan keffiyeh sebagai penyamaran, tetapi juga penggunaan identitas palsu untuk mendekati orang-orang yang mungkin memberikan respons berbeda jika mengetahui identitas sebenarnya dari orang yang berbicara dengan mereka.

Suleiman juga mengkritik upaya mengaitkan persoalan Palestina hanya dengan serangan 7 Oktober 2023. Menurutnya, pendudukan, kekerasan, serta perampasan tanah dan hak-hak warga Palestina telah berlangsung jauh sebelum peristiwa tersebut.

Kasus ini akhirnya berkembang menjadi perdebatan lebih luas mengenai metode propaganda dan upaya memengaruhi opini publik.

Pengakuan sejumlah anggota Front Line Advocates memperlihatkan bahwa penggunaan keffiyeh dan penyamaran sebagai pendukung Palestina memang dilakukan secara sengaja untuk menarik kelompok masyarakat tertentu.

Sejumlah aktivis kemudian mempertanyakan alasan mantan tentara "Israel" menyembunyikan identitasnya dan menggunakan simbol Palestina untuk mendekati orang-orang yang sedang memprotes perang "Israel" di Gaza.

(samirmusa/arrahmah.id)