Memuat...

Le Temps: Investigasi Bersejarah atas Kejahatan “Israel” di Gaza

Samir Musa
Jumat, 4 Juli 2025 / 9 Muharam 1447 16:40
Le Temps: Investigasi Bersejarah atas Kejahatan “Israel” di Gaza
Warga Gaza dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama pahit: mati kelaparan atau menghadapi risiko ditembak (AFP)

GENEVA (Arrahmah.id) – Dengan mengungkap sifat pembantaian yang disengaja oleh tentara “Israel” terhadap warga sipil Palestina saat distribusi bantuan kemanusiaan di Gaza, harian “Israel” Haaretz telah mendokumentasikan sebuah investigasi bersejarah mengenai kejahatan-kejahatan “Israel”. Demikian menurut surat kabar Swiss Le Temps, yang menyebut dirinya sebagai media berbahasa Prancis pertama yang menerbitkan ulang laporan tersebut secara lengkap.

Dalam editorial yang ditulis oleh Aline Jaccottet, disebutkan bahwa Gaza kini menjadi tempat “di mana nyawa manusia tidak lagi berarti apa-apa.” Sejak dimulainya operasi kemanusiaan di Gaza, tentara “Israel” terus melepaskan tembakan—bahkan terhadap warga sipil yang hanya ingin mendapatkan bantuan makanan. Warga sipil pun dihadapkan pada pilihan paling tragis: mati kelaparan atau ditembak.

Yang menjadi sorotan dalam laporan tiga jurnalis Haaretz—Nir Hasson, Yaniv Kubovich, dan Bar Peleg—adalah penekanan pada sifat sistematis dan disengaja dari kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh tentara “Israel”. Dalam laporan berjudul “Membunuh yang Tak Bersalah Telah Menjadi Hal Biasa”, para tentara sendiri mengungkap mekanisme pembantaian yang berlangsung saat penyaluran bantuan makanan.

Salah satu tentara menegaskan bahwa para korban benar-benar berada dalam kondisi tak berdaya. “Saat penyaluran bantuan, tidak ada ancaman terhadap kami. Tidak ada musuh, tidak ada senjata,” katanya.

Pernyataan itu sekaligus membantah dalih yang kerap digunakan untuk membenarkan penembakan terhadap kerumunan warga Gaza yang kelaparan. Padahal, sebagaimana diungkap dalam laporan, mekanisme hukum dan pengawasan untuk mencegah atau menghukum kekejaman semacam ini sebenarnya ada di negara yang menyebut dirinya sebagai “satu-satunya demokrasi di Timur Tengah”. Namun, investigasi tersebut menunjukkan kegagalannya.

Sorotan Tajam terhadap Budaya Impunitas

Jaccottet juga menyoroti hal mendasar lainnya yang diungkap dalam laporan tersebut: keheningan. Tidak satu pun tentara yang diwawancarai berani mengungkap identitasnya karena khawatir akan dituntut. Yang lebih penting lagi, mereka takut dicap sebagai pengkhianat—sebuah label yang sering dilekatkan di negara dalam kondisi perang, khususnya di “Israel”, di mana tentara dianggap sebagai pahlawan. “Siapa yang siap mendengar bahwa anak lelakinya, yang mempertaruhkan nyawa di medan perang, justru mencabut nyawa orang-orang tak bersalah?” tulisnya.

Menurut Jaccottet, kejahatan-kejahatan ini dilakukan dengan impunitas total. Gaza, dalam kata-kata para tentara yang diwawancarai, telah menjadi “dunia paralel” tanpa aturan, tempat di mana “nyawa tak lagi penting bagi siapa pun.”

Dengan nada sinis, ia menyindir, “Mengapa harus khawatir, jika Anda adalah bagian dari tentara yang ‘paling bermoral di dunia,’ seperti yang sering diklaim oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sembari menyerang laporan ini secara terbuka?”

Sementara itu, lembaga kemanusiaan Gaza pada 2 Juli lalu membantah adanya pembunuhan terhadap warga sipil di lokasi-lokasi distribusi bantuan mereka.

Jaccottet menutup editorialnya dengan menyatakan bahwa investigasi para jurnalis Haaretz ini telah “menyoroti kegelapan penyangkalan yang memalukan dan ketidakpedulian yang kejam.” Ia berharap bahwa suatu hari nanti, laporan ini dapat menjadi langkah menuju keadilan bagi para penyintas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan—serta mengembalikan perhatian dunia pada para korban, bukan pada pelakunya.

(Samiŕmusa/arrahmah.id)