Memuat...

Delegasi Iran Tiba di Islamabad, Peringatkan AS Tak Gunakan Negosiasi Sebagai Kedok Tipu Muslihat

Zarah Amala
Sabtu, 11 April 2026 / 23 Syawal 1447 10:01
Delegasi Iran Tiba di Islamabad, Peringatkan AS Tak Gunakan Negosiasi Sebagai Kedok Tipu Muslihat
Qalibaf (kanan) memimpin delegasi Iran dalam negosiasi, dan Vance memimpin delegasi Amerika (Agencies)

ISLAMABAD (Arrahmah.id) - Ibu kota Pakistan, Islamabad, menjadi pusat perhatian dunia setelah delegasi tingkat tinggi dari Iran dan Amerika Serikat tiba untuk memulai negosiasi penentu pada Sabtu (11/4/2026). Perundingan ini bertujuan untuk mengubah gencatan senjata sementara menjadi perdamaian permanen setelah 40 hari perang yang menghancurkan.

Delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf membawa rombongan besar sebanyak 70 orang, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Kepala Bank Sentral Abdolnaser Hemmati. Sementara itu, delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance bersama penasihat senior Jared Kushner.

Dari Washington, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan tegas mengenai posisi tawar AS. Ia mengeklaim bahwa Iran telah melemah secara militer dan kehilangan sebagian besar kapasitas produksi rudalnya.

"Syarat pertama dan utama dalam negosiasi ini adalah tidak boleh ada pengayaan nuklir di dalam wilayah Iran," tegas Trump. Posisi ini diprediksi akan menjadi batu sandungan besar dalam diskusi, mengingat pengayaan uranium selama ini dianggap Iran sebagai hak kedaulatan mereka.

Setibanya di Bandara Islamabad, Qalibaf menyatakan bahwa Iran memasuki ruang runding dengan itikad baik namun dengan rasa percaya yang nol terhadap Amerika Serikat. Ia berkaca pada pengalaman sejarah di mana Washington dianggap sering melanggar janji.

"Kami siap untuk mencapai kesepakatan jika Washington serius memberikan hak-hak rakyat Iran," ujar Qalibaf. Namun, ia memberikan syarat awal bagi dimulainya pembicaraan teknis, yaitu gencatan senjata total di Lebanon dan pencairan aset-aset Iran yang dibekukan.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyambut baik kehadiran kedua pihak namun memperingatkan bahwa pembicaraan ini akan sangat sulit. Tantangan terbesarnya adalah menjembatani perbedaan tajam mengenai program nuklir dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Menurut laporan CNN, perundingan ini dikategorikan sebagai risiko tinggi (high-stakes) dan akan berlangsung dalam dua format. Format tidak langsung, mediator Pakistan akan memediasi kedua belah pihak untuk menyepakati agenda pembicaraan. Format langsung, jika agenda disepakati, delegasi AS dan Iran dijadwalkan akan melakukan diskusi tatap muka langsung pada hari Sabtu ini.

Selain isu nuklir dan Selat Hormuz, para negosiator juga akan membahas mekanisme pemantauan gencatan senjata dan perlindungan infrastruktur energi. Keberhasilan di Islamabad akan menentukan apakah Timur Tengah akan menuju stabilisasi atau kembali ke kancah perang terbuka yang lebih luas. (zarahamala/arrahmah.id)