WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa negaranya tidak akan membiarkan adanya ancaman terhadap navigasi di perairan internasional. Jelang perundingan damai di Pakistan, Trump mengeluarkan ancaman akan mengakhiri krisis di Selat Hormuz dengan satu atau lain cara jika diperlukan.
Saat meninggalkan Washington untuk perjalanan domestik pada Jumat (10/4/2026), Trump menyatakan keyakinannya bahwa jalur distribusi minyak tersebut akan segera normal kembali. "Kami akan membuka Teluk (Selat Hormuz) dengan atau tanpa mereka. Saya pikir ini akan terjadi cukup cepat. Jika tidak, kami mampu menyelesaikannya sendiri," tegas Trump kepada awak media.
Melalui platform Truth Social, Presiden Trump menuding Teheran sedang mencoba memeras dunia dengan ancaman penutupan jalur air internasional. Menurut Trump, Iran saat ini tidak memiliki kartu negosiasi yang kuat selain kemampuannya memengaruhi lalu lintas di selat yang menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak mentah dunia tersebut.
Dalam wawancara dengan Washington Post, Trump bahkan mengungkap langkah militer yang sedang dipersiapkan jika jalur diplomasi menemui jalan buntu. Kapal-kapal perang AS sedang dikonfigurasi ulang dan dipersenjatai dengan amunisi tercanggih. Trump mengancam akan menggunakan kekuatan militer tersebut dengan efektivitas yang sangat besar jika kesepakatan tidak tercapai di Islamabad.
Di sisi lain, Teheran tampaknya mulai menetapkan prosedur baru untuk pelayaran. Seorang pejabat Iran menyatakan kepada Al Jazeera bahwa lebih dari 100 kapal dari berbagai kewarganegaraan telah mengajukan permohonan tertulis untuk melintasi Selat Hormuz sesuai dengan protokol baru.
Pihak Iran mengeklaim telah menyelesaikan infrastruktur teknis untuk mengatur lalu lintas navigasi tersebut. Namun, mereka menegaskan bahwa izin lintasan akan diberikan setelah memenuhi persyaratan teknis dan politik yang ditentukan oleh Teheran, yang kini sedang dalam tahap peninjauan skala prioritas.
Isu kontrol Selat Hormuz akan menjadi agenda utama dalam pembicaraan di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4) ini. Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance akan berhadapan langsung dengan delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan maritim yang telah berlangsung selama perang 40 hari terakhir. (zarahamala/arrahmah.id)
