WASHINGTON (Arrahmah.id) - Sebuah laporan terbaru dari Wall Street Journal (WSJ) mengungkapkan estimasi intelijen Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa Iran masih memiliki ribuan rudal balistik meskipun telah melewati beberapa pekan serangan udara intensif. Teheran dilaporkan masih memiliki kemampuan untuk mengoperasikan kembali peluncur rudal yang tersimpan di kompleks bawah tanah yang dibentengi.
Laporan ini muncul di tengah upaya diplomatik pemerintahan Donald Trump untuk menetapkan gencatan senjata permanen dan membuka kembali jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan Wall Street Journal (WSJ), para pejabat Amerika Serikat menyatakan kekhawatiran utama bahwa Teheran akan memanfaatkan periode tenang selama gencatan senjata untuk membangun kembali kekuatan militernya yang terdampak perang.
Meskipun lebih dari separuh peluncur rudal Iran dilaporkan hancur, rusak, atau terisolasi, Iran dinilai masih memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan mengaktifkan kembali sisa peluncur yang tersimpan di lokasi-lokasi bawah tanah yang terbentengi secara kokoh.
Estimasi intelijen menunjukkan bahwa meski stok rudal Iran menyusut hingga sekitar 50% selama konflik, negara tersebut diyakini masih mempertahankan ribuan rudal balistik jarak pendek dan menengah. Selain itu, meskipun kapasitas serangan pesawat nirawak (drone) telah merosot hingga di bawah 50%, persediaan rudal cruise yang tersisa dianggap masih cukup untuk menargetkan jalur navigasi maupun situs militer di kawasan Teluk apabila jalur perundingan menemui kegagalan.
Di sisi lain, terdapat perdebatan internal di Washington mengenai penilaian tingkat kerusakan sebenarnya yang dialami oleh militer Iran. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memberikan pandangan yang lebih optimis dengan menyebut bahwa program rudal Iran saat ini sudah hampir hancur secara operasional akibat rusaknya infrastruktur peluncuran secara masif.
Namun, beberapa laporan intelijen justru menyajikan analisis yang lebih berhati-hati dengan menyatakan bahwa Iran memiliki kemampuan luar biasa untuk berinovasi dan memulihkan kekuatannya dalam waktu cepat. Senada dengan hal tersebut, mantan analis CIA, Kenneth Pollack, memperingatkan bahwa Iran tetap merupakan "lawan yang kompleks" di kawasan tersebut karena ketahanannya dalam menghadapi tekanan militer yang besar.
Jenderal Dan Keen, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, menyatakan bahwa serangan udara besar-besaran telah "menghancurkan basis industri pertahanan Iran." Lebih dari 13.000 amunisi digunakan dalam operasi tersebut untuk memastikan Iran tidak dapat segera melancarkan serangan besar ke luar perbatasannya dalam waktu dekat.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, mengeklaim kesuksesan militer ini memberikan posisi tawar yang lebih kuat bagi AS dalam diplomasi. Meski demikian, para ahli dalam laporan WSJ memperingatkan bahwa kecepatan pemulihan militer Iran akan sangat bergantung pada potensi bantuan teknis dan pasokan dari Rusia atau Tiongkok dan efektivitas kontrol ekspor dan tekanan ekonomi yang diberikan dunia internasional.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa meskipun kekuatannya berkurang drastis, Iran tetap memiliki pengaruh dalam persamaan keamanan regional, terutama melalui kemampuan rudal yang tersisa dan posisi strategisnya di jalur maritim dunia. (zarahamala/arrahmah.id)
