Memuat...

Ustadz Zaitun Rasmin: Perubahan Arah AS Bisa Dimanfaatkan untuk Akhiri Konflik Palestina

Ameera
Jumat, 3 April 2026 / 15 Syawal 1447 12:23
Ustadz Zaitun Rasmin: Perubahan Arah AS Bisa Dimanfaatkan untuk Akhiri Konflik Palestina
Ustadz Zaitun Rasmin: Perubahan Arah AS Bisa Dimanfaatkan untuk Akhiri Konflik Palestina

JAKARTA (Arrahmah.id) - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ukhuwah, Muhammad Zaitun Rasmin, menyoroti adanya perubahan sikap Amerika Serikat yang dinilainya mulai mengambil jarak dari sekutu-sekutu Baratnya yang selama ini dikenal sebagai pendukung utama Zionis "Israel".

Dalam keterangannya, ia menyebut dinamika tersebut sebagai perkembangan yang patut dicermati dan setidaknya bisa dianggap sebagai sebuah peluang, khususnya dalam upaya mendorong perdamaian di Palestina.

“Baru pertama kalinya Amerika ini berpisah dengan sekutu-sekutunya di Barat yang selama ini selalu menjadi pendukung utama dari Zionis Israel. Maka paling tidak ini dianggap sebagai peluang,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar umat Islam tetap bersikap waspada. Dalam ajaran Islam, menurutnya, setiap peluang kebaikan tidak boleh ditutup, sekalipun datang dari pihak yang selama ini dipandang negatif.

Ia menegaskan bahwa prinsip Islam adalah mendukung setiap bentuk kebaikan, terlebih jika berkaitan dengan perdamaian. Namun, sikap tersebut harus tetap diiringi dengan kehati-hatian dan tidak bersikap naif.

“Kita tidak sekadar ikut. Konsep Islam ini bahwa setiap ada yang namanya kebaikan patut untuk kita dukung. Apalagi kalau perdamaian. Walaupun kita menduga, kita kan tidak bisa memastikan, siapa yang bisa memastikan sekarang ini? Hanya Allah yang tahu,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sikap tawakal kepada Allah, seraya mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perdamaian. Namun demikian, umat Islam juga dituntut untuk tetap realistis dalam melihat dinamika global.

Ia juga menjelaskan bahwa sikap negara-negara Islam yang cenderung menerima perkembangan tersebut didasarkan pada pertimbangan realistis. Menurutnya, yang paling penting adalah melihat langsung respon dari masyarakat Palestina, khususnya di Gaza.

“Sampai saat ini tidak ada reaksi keras dari Gaza menolak. Saya berkomunikasi dengan mereka, bahwa bagi mereka tidak terlalu penting hal-hal yang sifatnya bunga-bunga ini. Mereka menunggu apa substansinya nanti,” ungkapnya.

Selain itu, ia menyinggung kemungkinan adanya kepentingan dari pihak Amerika Serikat, termasuk tokoh seperti Donald Trump.

Namun, menurutnya, hal tersebut tidak menjadi persoalan selama hasil akhirnya dapat menghentikan genosida, membawa kemerdekaan bagi Palestina, serta menciptakan perdamaian yang nyata.

Di akhir pernyataannya, ia juga mengkritisi peran Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dinilai belum memberikan kontribusi signifikan bagi penyelesaian konflik Palestina.

“Kira-kira apa yang telah dibuat PBB buat Palestina sampai saat ini?” pungkasnya.

(ameera/arrahmah.id)