BANDUNG (Arrahmah.id) — Aliansi Nasional Anti Syi'ah (ANNAS) Pusat mengeluarkan pernyataan sikap terkait dugaan serangan pesawat tanpa awak atau drone terhadap fasilitas kelistrikan di Madinah, Arab Saudi, yang disebut turut memasok listrik untuk Masjid Nabawi.
Pernyataan tersebut dituangkan dalam Pernyataan Sikap ANNAS Nomor 06/Set/ANNAS/X/2026 yang ditandatangani di Bandung pada 6 Oktober 2026 atau bertepatan dengan 24 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.
Pernyataan itu ditandatangani Ketua Umum ANNAS K.H. Athian Ali M. Da'i, Lc., M.A. dan Sekretaris Umum Tardjono Abu Muas.
Dalam dokumen tersebut, ANNAS menyebut serangan terjadi pada 29 September 2026 dan menargetkan fasilitas kelistrikan yang disebut sebagai gardu atau pusat listrik Taiba.
Menurut ANNAS, serangan drone tersebut menyebabkan kerusakan pada salah satu transformator dan berdampak pada fasilitas yang memasok listrik ke kawasan Masjid Nabawi.
ANNAS menyatakan bahwa meskipun pihak Houthi membantah keterlibatan dalam serangan tersebut, organisasi itu menilai terdapat bukti yang menurut mereka mengarah kepada kelompok Houthi.
Pernyataan ANNAS juga mengaitkan insiden tersebut dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dan situasi keamanan di Jazirah Arab.
Organisasi tersebut menyoroti serangkaian serangan terhadap fasilitas di Arab Saudi serta menyatakan kekhawatiran terhadap keamanan Makkah dan Madinah.
Dalam pernyataannya, ANNAS juga mengutip kecaman dari sejumlah pihak terhadap serangan yang disebut mengancam keamanan Madinah.
Salah satunya adalah Grand Imam Al-Azhar, Syekh Ahmad Muhammad Ath-Thayyeb, yang menurut dokumen ANNAS mengecam serangan terhadap Madinah dan menyerukan agar umat Islam menahan diri dari provokasi.
Selain itu, ANNAS menyebut adanya kecaman dari sejumlah negara dan organisasi regional maupun internasional, antara lain Uni Emirat Arab, Yordania, negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC), Kuwait, Qatar, Turki, Mesir, Somalia, Pakistan, Bangladesh, Liga Arab, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), serta Rabithah Alam Islami.
Dalam konteks politik regional, ANNAS menilai Iran memiliki hubungan dengan Houthi dan menuduh Teheran menggunakan kelompok tersebut sebagai proksi dalam konflik kawasan.
ANNAS kemudian menyampaikan lima sikap utama.
Pertama, ANNAS menyatakan kecaman terhadap dugaan serangan Houthi terhadap fasilitas kelistrikan yang disebut memasok listrik ke Masjid Nabawi dan memandangnya sebagai tindakan yang berdampak terhadap dunia Islam.
Kedua, ANNAS mengecam Iran yang mereka tuding menjadikan Houthi sebagai proksi untuk memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya Jazirah Arab.
Ketiga, ANNAS mendesak Iran menghentikan propaganda yang, menurut mereka, ditujukan untuk mendapatkan dukungan umat Islam dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, sementara pada saat yang sama kelompok yang disebut sebagai proksi Iran melakukan serangan terhadap negara-negara Muslim.
Keempat, ANNAS mengingatkan umat Islam di Indonesia agar mewaspadai apa yang mereka sebut sebagai propaganda dan gerakan Syiahisasi yang dikaitkan dengan Iran, termasuk dalam konteks konflik Iran, Amerika Serikat, dan "Israel".
Kelima, ANNAS mengajak organisasi kemasyarakatan dan gerakan Islam untuk membangun kerja sama dalam menghadapi berbagai hal yang oleh organisasi tersebut dipandang sebagai upaya penyebaran ajaran Syiah yang bertentangan dengan akidah, syariah, akhlak, dan persatuan umat Islam.
ANNAS menutup pernyataan tersebut dengan menyebut dokumen itu sebagai bentuk tanggung jawab organisasi dalam menjalankan dakwah dan perjuangan keagamaan.
Pernyataan tersebut dikeluarkan di tengah situasi Timur Tengah yang masih diwarnai ketegangan dan saling tuding antara berbagai pihak.
(ameera/arrahmah.id)
