Memuat...

Burkina Faso Stop Kontes Kecantikan, Ganti dengan Lomba Sains

Hanoum
Rabu, 28 Oktober 2026 / 18 Jumadilawal 1448 04:53
Burkina Faso Stop Kontes Kecantikan, Ganti dengan Lomba Sains
Foto ilustrasi. [Foto: X]

OUAGADOUGOU (Arrahmah.id) -- Pemerintah Burkina Faso menangguhkan semua kontes kecantikan di seluruh negeri sejak 8 Juni 2026, lalu menggelar kompetisi sains “HAKILI Mousso” untuk lulusan SMA perempuan. Lima belas pemenang dianugerahi penghargaan di Ouagadougou atas ajang ini.

Dilansir Adomonline (16/10/2026), Burkina Faso menangguhkan kontes kecantikan secara nasional sambil meluncurkan kompetisi sains nasional untuk mengenali dan membina bakat sains perempuan.

Kementerian Komunikasi, Kebudayaan, Seni, dan Pariwisata mengumumkan penangguhan itu lewat komunike pada 8 Juni 2026 lalu, sambil menyusun regulasi baru untuk mengatur kontes kecantikan. Selama regulasi belum berlaku, tidak ada kontes kecantikan yang boleh digelar.

Otoritas mengatakan tujuannya menjaga “identitas budaya Burkina” dan menjamin penghormatan nilai moral. Penangguhan mencakup pemilihan ratu kampung dan kontes kecantikan berbasis etnis. Hampir dua bulan kemudian, regulasi baru itu masih ditunggu, menurut RFI lewat AllAfrica.

Kompetisi pengganti itu lahir dari inisiatif presiden. HAKILI Mousso terbuka bagi lulusan SMA 2026 berusia maksimal 21 tahun dan mencakup matematika, fisika, dan kimia. Sebanyak 84 kandidat terpilih menjalani sepekan pelatihan intensif di Lycée Scientifique National sebelum ujian.

Perdana Menteri Rimtalba Jean Emmanuel Ouédraogo, mewakili Presiden Kapten Ibrahim Traoré, memimpin penyerahan penghargaan. Guru pembimbing tiga peringkat teratas masing-masing mendapat sebuah vila dan sepeda motor.

Pemerintah memosisikan kompetisi ini sebagai jawaban atas rendahnya jumlah perempuan di bidang sains. Perempuan masih minoritas di jurusan sains, padahal negara itu ingin memperkuat kemampuan teknologi dan industri.

Saat menerima para pemenang pada 21 September, Traoré menegaskan kompetisi itu bukan bagian dari politik gender impor yang mengadu perempuan dengan laki-laki. Pemerintah militer yang berkuasa sebelumnya sudah menjalankan kebijakan “pembersihan” sektor seni dan budaya sejak Maret 2025.

Reaksi publik terbelah. Banyak pengguna media sosial memuji inisiatif itu karena bisa mendorong perempuan muda menempuh pendidikan dan karier sains. Sebagian lain mengkritik, dengan alasan mendorong sains tidak berarti kecantikan dan feminitas diabaikan, dan perempuan harus bebas memilih minatnya. (hanoum/arrahmah.id)