Memuat...

Bloomberg: Iran Masih Bisa Produksi Rudal dan Drone meski Digempur AS-'Israel'

Zarah Amala
Sabtu, 10 Oktober 2026 / 29 Rabiulakhir 1448 17:20
Bloomberg: Iran Masih Bisa Produksi Rudal dan Drone meski Digempur AS-'Israel'
Tangkapan video Garda Revolusi Iran yang diduga menunjukkan rudal diluncurkan ke arah target di Bahrain dan Kuwait. (AFP)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Iran masih mampu memproduksi rudal dan pesawat nirawak meski pabrik-pabrik persenjataannya menjadi sasaran serangan udara Amerika Serikat dan 'Israel' selama berbulan-bulan. Kemampuan tersebut memungkinkan Teheran mengisi kembali persediaan senjatanya yang berkurang akibat perang, menurut laporan Bloomberg yang dikutip Al Jazeera, Sabtu (10/10/2026).

Bloomberg mengutip sejumlah pejabat negara-negara Barat yang mengetahui penilaian intelijen rahasia. Mereka menyebut Iran masih memiliki kapasitas untuk memproduksi senjata guna mengganti persenjataan yang hilang.

Salah seorang pejabat mengatakan Iran masih menyimpan persediaan rudal balistik dan sejumlah senjata antikapal dalam jumlah besar. Persediaan itu juga dinilai dapat ditingkatkan kembali dalam waktu relatif singkat.

Pejabat tersebut menambahkan bahwa Rusia turut memasok rudal kepada Iran. Penilaian ini sejalan dengan evaluasi terpisah pada Juni lalu. Kementerian Pertahanan Rusia belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Bloomberg.

Temuan tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pejabat pemerintahannya yang berulang kali menyatakan bahwa serangan udara selama delapan bulan telah menghancurkan kemampuan militer Iran untuk mengancam pangkalan AS di kawasan dan sekutu Washington.

Trump sebelumnya menyebut militer Iran telah hancur sepenuhnya. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada 30 September lalu mengklaim Washington telah menghancurkan kapasitas industri militer dan seluruh basis pertahanan Iran.

Gedung Putih dan Pentagon belum segera menanggapi permintaan komentar Bloomberg mengenai laporan tersebut.

Iran Klaim Kapasitas Produksi Meningkat

Sebelum laporan Bloomberg diterbitkan, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei, menyatakan kapasitas produksi senjata negaranya kini mencapai 2,5 kali lipat dibandingkan sebelum perang.

Menurut laporan kantor berita Tasnim, Talaei mengaitkan peningkatan tersebut dengan pemanfaatan penuh kapasitas industri pertahanan Iran. Ia juga mengatakan rencana produksi peralatan ofensif terus diperbarui untuk menyesuaikan perkembangan medan tempur dan kebutuhan angkatan bersenjata.

Talaei memperingatkan bahwa jika pihak lawan salah memperhitungkan kemampuan Iran, mereka akan menghadapi persenjataan yang lebih canggih dan respons keras dari angkatan bersenjata negara itu.

Meski Iran masih memiliki kemampuan produksi, sejumlah penilaian lain menunjukkan bahwa serangan AS-'Israel' telah merusak sebagian besar industri rudal negara tersebut.

Jim Lamson, mantan analis Badan Intelijen Pusat AS (CIA) yang kini menjadi peneliti tamu di King's College London, menilai kampanye udara tersebut kemungkinan telah melemahkan secara signifikan kemampuan Iran memproduksi rudal dibandingkan sebelum perang. Dampaknya diperkirakan dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Sebelum perang, 'Israel' memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal balistik. Namun, jumlah yang masih tersisa saat ini belum diketahui secara pasti.

Penilaian intelijen negara-negara Barat yang terakhir diperbarui pada Juni lalu memperkirakan Iran masih memiliki sekitar tiga perempat dari persediaan amunisi sebelum perang.

Sementara itu, analisis Bloomberg Economics terhadap data yang tersedia memperkirakan Iran telah meluncurkan lebih dari 4.000 drone Shahed bermesin baling-baling dan sedikitnya 2.000 rudal balistik sejak konflik dimulai pada 28 Februari lalu.

Becca Wasser, penanggung jawab analisis pertahanan di Bloomberg Economics, menilai berkurangnya intensitas serangan besar AS memberi Iran waktu untuk mengganti persenjataan yang hilang dan memulihkan kemampuannya.

Menurutnya, siklus meredanya pertempuran, persenjataan kembali, lalu pecahnya konflik baru berpotensi memperpanjang perang tanpa memberikan keunggulan yang menentukan kepada salah satu pihak.

Di tengah perkembangan tersebut, Trump pada Kamis (8/10) menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November mendatang. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di media sosial, sementara ketegangan antara Washington dan Teheran masih berlanjut. (zarahamala/arrahmah.id)