TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Copilot maskapai Flydubai, Hamam al-Hammami, diduga telah merencanakan serangan terhadap pesawat yang terbang menuju Israel sejak Juli 2026, beberapa bulan sebelum insiden di udara pada 30 September. Menurut laporan The Guardian (8/10/2026) yang mengutip pejabat regional dan Israel, rencana itu kemungkinan ditunda karena seorang rekannya berada di antara awak pesawat pada penerbangan yang sebelumnya dipertimbangkan sebagai sasaran.
Insiden terjadi pada penerbangan Flydubai FZ1073 yang berangkat dari Dubai, Uni Emirat Arab, menuju Tel Aviv, Israel, pada 30 September. Pesawat Boeing 737 MAX itu membawa lebih dari 170 penumpang dan awak, sebagian besar warga 'Israel'. Sekitar dua jam setelah lepas landas, al-Hammami diduga menyerang kapten pesawat, Smit Machchhar, menggunakan kapak darurat yang tersimpan di kokpit, kemudian berusaha mengambil alih kendali pesawat.
Serangan tersebut menyebabkan pesawat menukik tajam dan kehilangan ketinggian lebih dari 16.000 kaki dalam sekitar 30 detik. Kapten yang terluka berhasil membuka pintu kokpit sehingga sejumlah penumpang dapat masuk dan melumpuhkan kopilot.
Seorang penumpang membantu menstabilkan pesawat sebelum pilot Flydubai cadangan yang berada di dalam penerbangan mengambil alih kendali dan mendaratkan pesawat dengan selamat di Tabuk, Arab Saudi. Tidak ada laporan mengenai korban jiwa di antara penumpang.
Menurut laporan The Guardian, penyelidik menduga al-Hammami, warga negara Oman berusia 29 tahun, semula merencanakan serangan pada Juli, tetapi mengurungkannya pada saat itu. Sejumlah laporan media Israel yang dikutip surat kabar tersebut menyebut al-Hammami diduga berniat menabrakkan pesawat ke Bandara Ben Gurion, dekat Tel Aviv, atau sasaran penting lainnya di wilayah tersebut.
Pada 3 Oktober, Jaksa Agung Uni Emirat Arab, Hamad Saif al-Shamsi, menyatakan penyelidikan menunjukkan kopilot tersebut berusaha melakukan tindakan terorisme. Menurut kantor berita resmi Emirates News Agency (WAM), ia menyerang kapten di kokpit dan berusaha menguasai kendali pesawat. Otoritas UEA membentuk tim penyidik untuk menelusuri motif, kemungkinan hubungan dengan pihak lain, serta bukti fisik dan digital yang berkaitan dengan insiden tersebut.
Penyelidikan kemudian meluas ke sejumlah negara untuk menelusuri riwayat pendidikan dan pekerjaan al-Hammami. The Guardian melaporkan bahwa otoritas Australia dan Selandia Baru turut memeriksa latar belakangnya, termasuk masa ketika ia pernah belajar atau menjalani pelatihan penerbangan di kedua negara. Ia juga dilaporkan pernah bekerja di Oman Air sebelum bergabung dengan Royal Air Maroc dan akhirnya Flydubai. Riwayat tersebut sedang ditelaah untuk mengetahui apakah ada tanda peringatan yang sebelumnya terlewat.
Hingga laporan terbaru, penyidik masih berusaha memastikan motif al-Hammami, apakah ia bertindak seorang diri, dan seberapa jauh rencana serangan tersebut dipersiapkan. Dugaan bahwa pesawat akan digunakan untuk menyerang sasaran di 'Israel' belum menjadi putusan pengadilan, sementara hasil akhir penyelidikan kriminal UEA dan pemeriksaan keselamatan penerbangan Arab Saudi masih ditunggu. (hanoum/arrahmah.id)
