GAZA (Arrahmah.id) - Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina, Francesca Albanese, menyebut kondisi di Jalur Gaza sangat mengerikan. Ia memperingatkan bahwa warga Palestina yang terkepung menghadapi penderitaan berkepanjangan hingga mengalami kematian perlahan.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera dari ibu kota Tunisia pada Jumat (9/10/2026), bertepatan dengan tiga tahun perang di Gaza, Albanese mengatakan kekuatan bom yang telah dijatuhkan di wilayah tersebut setara dengan enam bom nuklir.
Ia menambahkan, setelah rentetan pemboman itu, militer 'Israel' masih terus menyerang Gaza hingga bangunan-bangunan yang hancur berubah menjadi debu, sementara warga tidak memiliki tempat berlindung yang aman.
Menurut data Kantor Media Pemerintah Gaza yang dikutip Al Jazeera, 'Israel' telah menjatuhkan sekitar 223.000 ton bom di Jalur Gaza dalam beberapa tahun terakhir. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai sekitar 157.000 lainnya, sementara ribuan orang masih dinyatakan hilang.
Albanese mengatakan situasi yang telah ia peringatkan sejak berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lalu, kini terlihat nyata di Gaza. Menurutnya, keadaan terus memburuk dari hari ke hari hingga sulit digambarkan secara tepat dengan kata-kata.
Ia juga menyoroti meluasnya penyakit dan malnutrisi di kalangan warga, yang memperparah penderitaan mereka. Banyak penduduk telah dipaksa mengungsi dari Gaza utara maupun selatan, sementara Kota Rafah nyaris hancur sepenuhnya.
Albanese menyebut sekitar 1,8 juta warga Palestina kini terpaksa berdesakan di wilayah yang luasnya kurang dari 30 persen dari total wilayah Gaza.
Albanese mengatakan situasi di Gaza sulit dihadapi tanpa dukungan internasional. Ia menyinggung tekanan Amerika Serikat yang menurutnya mendorong sejumlah negara, termasuk Senegal dan Kolombia, keluar dari The Hague Group.
Kelompok yang dibentuk dalam sebuah konferensi internasional di Kolombia itu bertujuan mengoordinasikan langkah pemerintah berbagai negara untuk merespons dugaan pelanggaran hukum internasional oleh 'Israel'.
Menurut Albanese, menghadapi tekanan Amerika Serikat bukan perkara mudah, terutama ketika berhadapan dengan pemerintahan yang, dalam penilaiannya, bertindak dengan pendekatan balas dendam.
Ia juga menyoroti kehancuran berkepanjangan sektor kesehatan Gaza. Bantuan kemanusiaan masih sulit masuk dan belum ada penyelesaian politik yang mampu mengakhiri krisis tersebut. Meski demikian, protes internasional yang mengecam situasi di Gaza terus berlangsung.
Albanese sebelumnya berulang kali menyebut tindakan 'Israel' terhadap warga Palestina di Gaza sebagai genosida. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya menghadapi tekanan berat agar mengundurkan diri dari jabatan pelapor khusus PBB. (zarahamala/arrahmah.id)
