SANAA (Arrahmah.id) - Situasi militer di Yaman terus memanas seiring berlanjutnya pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok Ansarallah (Houtsi) di sejumlah front. Eskalasi tersebut juga memicu dampak keamanan dan kemanusiaan yang meluas.
Sejumlah media yang berafiliasi dengan Houtsi melaporkan serangan udara di ibu kota Yaman, Sanaa.
Di Arab Saudi, Otoritas Umum Penerbangan Sipil melaporkan dua serangan yang menyasar fasilitas Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Pertahanan Sipil Saudi juga melaporkan jatuhnya pecahan rudal balistik yang berhasil dicegat di Riyadh. Insiden tersebut menyebabkan kerusakan material pada sebuah taman kanak-kanak dan kompleks fasilitas medis. Belum ada keterangan mengenai korban jiwa dalam insiden itu.
Juru bicara militer Houtsi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya melancarkan serangan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menggunakan dua rudal jelajah serta menargetkan Bandara Najran dengan sebuah rudal balistik pada Kamis malam (8/10/2026).
Sementara itu, pasukan pemerintah Yaman mengumumkan telah melancarkan 1.729 operasi serangan presisi terhadap sasaran militer Houtsi di berbagai front sebagai bagian dari operasi yang mereka namai “Fajar Yaman”.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memperingatkan warga negaranya agar tidak bepergian ke wilayah dekat perbatasan Yaman.
Kementerian Luar Negeri Inggris juga mengimbau warga negaranya menghindari perjalanan ke wilayah Asir, Riyadh, Najran, dan Jazan, serta Kota Taif dan Bandara Internasional Taif.
Sejumlah laporan terbaru juga menunjukkan meningkatnya serangan lintas wilayah antara Houthi dan pasukan yang didukung Saudi. Namun, klaim masing-masing pihak mengenai sasaran dan dampak serangan tidak seluruhnya dapat diverifikasi secara independen. (zarahamala/arrahmah.id)
