Memuat...

KAM Academy Gelar Pelatihan AI 101, Kenalkan Kecerdasan Buatan sebagai “Asisten Pintar” Masyarakat

Ameera
Senin, 5 Oktober 2026 / 24 Rabiulakhir 1448 21:24
KAM Academy Gelar Pelatihan AI 101, Kenalkan Kecerdasan Buatan sebagai “Asisten Pintar” Masyarakat
KAM Academy Gelar Pelatihan AI 101, Kenalkan Kecerdasan Buatan sebagai “Asisten Pintar” Masyarakat

BEKASI (Arrahmah.id) — Pemuda Muhammadiyah Jatiasih, Kota Bekasi, melalui program KAM Academy, menggelar pelatihan literasi digital bertajuk “AI 101: Kenalan dengan Asisten Pintar" pada Ahad (4/10). Kegiatan berlangsung di Gedung BLK Masjid Abdullah AbdulAziz Almanie.

Pelatihan tersebut menghadirkan Hady Rianto, Ketua Bidang Media, Komunikasi dan Informasi PCPM Jatiasih sekaligus Creative and Brand Strategist, sebagai narasumber utama.

Dalam kegiatan itu, Hady mengajak peserta mengenal kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) secara lebih dekat, sekaligus memahami bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara bijak, praktis, dan aman untuk mendukung berbagai aktivitas sehari-hari.

Mengawali pemaparannya, Hady menjelaskan bahwa sebenarnya masyarakat sudah cukup akrab dengan teknologi AI, meskipun sering kali tidak menyadarinya.

Ia mencontohkan sejumlah teknologi yang sudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti fitur pengenal wajah pada smartphone, rekomendasi video, saran produk di marketplace, navigasi peta digital, hingga sistem pemilah pesan spam pada email.

Namun, menurut Hady, pemahaman mengenai AI tetap perlu diluruskan agar masyarakat tidak melihat teknologi tersebut secara berlebihan.

“AI bukan pengganti otak manusia. AI adalah alat yang sangat pandai menemukan pola,” tegas Hady.

Ia menjelaskan, AI merupakan teknologi yang memungkinkan komputer menjalankan berbagai tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia.

Perkembangan Generative AI bahkan memungkinkan komputer menghasilkan berbagai bentuk konten baru, mulai dari teks, gambar, musik hingga video berdasarkan instruksi atau perintah yang diberikan pengguna.

AI Bukan Sekadar Mesin Pencari

Dalam pelatihan tersebut, Hady juga menjelaskan perbedaan antara mesin pencari seperti Google dengan platform berbasis AI.

Menurutnya, mesin pencari membantu pengguna menemukan sumber atau halaman yang relevan, sementara AI dapat membantu mengolah kebutuhan pengguna menjadi keluaran yang lebih spesifik dan siap digunakan.

“Google membantu kita menemukan sumber atau halaman yang relevan, sedangkan AI membantu kita mengolah kebutuhan tersebut menjadi jawaban yang siap pakai,” jelas Hady.

Ia memberikan contoh sederhana. Ketika pengguna mengetik kata kunci “Cari resep ayam” pada mesin pencari, sistem akan menampilkan berbagai tautan dan sumber yang berkaitan dengan resep ayam.

Sementara itu, pengguna dapat memberikan instruksi lebih spesifik kepada AI, misalnya dengan menyebutkan bahan yang tersedia di rumah dan jumlah orang yang akan makan. AI kemudian dapat membantu menyusun resep berdasarkan informasi tersebut.

Menurut Hady, fleksibilitas inilah yang membuat AI berpotensi membantu berbagai kebutuhan masyarakat.

AI, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk mencari ide hadiah, menyederhanakan materi belajar, merapikan pesan, menyusun itinerary perjalanan, hingga membantu membuat susunan acara dan pembagian tugas dalam kegiatan pengajian.

Kualitas Jawaban Dipengaruhi Cara Memberi Instruksi

Salah satu materi yang mendapat perhatian dalam pelatihan tersebut adalah mengenai prompt, yakni instruksi yang diberikan pengguna kepada AI.

Hady menjelaskan, jawaban AI yang kurang sesuai tidak selalu disebabkan oleh kemampuan sistem. Bisa jadi pengguna belum memberikan informasi atau instruksi yang cukup jelas.

“Masalahnya belum tentu AI-nya. Bisa jadi kita belum cukup jelas menjelaskan apa yang kita mau,” ujar Hady.

Ia mengingatkan peserta agar tidak merasa harus selalu mencari atau membuat prompt yang sempurna sejak awal.

Menurutnya, penggunaan AI justru dapat dilakukan melalui percakapan bertahap. Pengguna dapat memulai dari kebutuhan nyata, kemudian memberikan instruksi tambahan apabila hasil yang diberikan belum sesuai.

“Mulailah dari kebutuhan nyata. Jika jawabannya kurang cocok, jangan mulai dari nol, lanjutkan percakapan dan berikan instruksi perbaikan,” imbuhnya.

Tekankan Etika dan Keamanan Data

Di penghujung materi, Hady memberikan perhatian khusus pada aspek etika, keamanan data, dan tanggung jawab manusia dalam menggunakan AI.

Ia mengingatkan peserta agar tidak langsung mempercayai setiap jawaban yang diberikan AI hanya karena jawaban tersebut disusun dengan bahasa yang rapi dan meyakinkan.

"Jawaban yang terdengar meyakinkan bukan berarti jawaban pasti benar,” pesannya.

Karena itu, pengguna tetap perlu melakukan verifikasi, memahami konteks, serta mempertimbangkan dampak dari keputusan yang diambil berdasarkan bantuan AI.

Hady menegaskan bahwa AI pada dasarnya merupakan alat bantu. Kendali dan tanggung jawab akhir tetap berada pada manusia.

Manusia tetap menentukan tujuan, memahami konteks, menilai hasil, dan mengambil keputusan. Sementara AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mencari ide, membuat draf, merangkum informasi, serta memberikan alternatif sudut pandang.

Menutup sesi pelatihan, Hady menekankan bahwa pemanfaatan AI tidak harus dimulai dari hal yang rumit.

“AI itu mudah. Kuncinya adalah tahu apa yang Anda butuhkan, lalu belajar bagaimana cara mengatakannya,” tutup Hady.

Melalui KAM Academy, Pemuda Muhammadiyah Jatiasih berharap literasi digital tidak hanya berhenti pada pengenalan teknologi, tetapi juga mendorong masyarakat untuk menjadi pengguna AI yang cerdas, kritis, aman, dan bertanggung jawab.

(ameera/arrahmah.id)