Memuat...

Menempatkan Otoritas Tanpa Fanatisme: Refleksi Kajian dan Bedah Buku Syaikh Albani di Masjid Al-Furqan UPI Bandung

Ameera
Ahad, 4 Oktober 2026 / 23 Rabiulakhir 1448 16:41
Menempatkan Otoritas Tanpa Fanatisme: Refleksi Kajian dan Bedah Buku Syaikh Albani di Masjid Al-Furqan UPI Bandung
Menempatkan Otoritas Tanpa Fanatisme: Refleksi Kajian dan Bedah Buku Syaikh Albani di Masjid Al-Furqan UPI Bandung

BANDUNG (Arrahmah.id) — Kajian dan bedah buku Syaikh Albani di Antara Muhaddits dan Bahitsul Hadits yang digelar di Masjid Al-Furqan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, pada Sabtu (3/10/2026), berhasil menarik perhatian ribuan peserta.

Forum ilmiah ini menegaskan bahwa perdebatan keagamaan tidak seharusnya berhenti pada polemik penyebutan gelar semata, melainkan harus diarahkan pada pemahaman yang lebih strategis mengenai kapasitas dan otoritas keilmuan seseorang.

Kegiatan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sepertiUstazdz Adi Hidayat (UAH), Gus Ajir Ubaidillah, Gus Wafi, Ustadz Muhammad Nuruddin, dan Ustadz Faris Baswedan ini diselenggarakan di tengah maraknya potongan ceramah dan perdebatan di media sosial.

Fenomena tersebut sering kali memicu masyarakat untuk mengambil kesimpulan instan tanpa membaca referensi secara utuh.

Bedah Struktur dan Metodologi Buku

Dalam paparannya, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa buku yang dibahas disusun secara sistematis, mulai dari pengantar, pendahuluan, tujuh pembahasan utama, hingga penutup.

Uraian dalam buku tersebut diawali dengan pembahasan mendasar mengenai hadis, ilmu hadis, serta penjelasan istilah-istilah penting seperti muhaddits, musnid, hafiz, dan bahitsul hadis, sebelum akhirnya mengulas profil serta metodologi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

"Semua antarbab ini itu saling mengantarkan dan berhubungan satu dengan yang lainnya," ujar UAH dalam video yang diunggah melalui kanal YouTube Adi Hidayat Official, Sabtu (3/10/2026).

Ia juga menekankan pentingnya membaca referensi secara tuntas sebelum seseorang menilai pemikiran seorang tokoh.

Menyoroti Wasiat Syaikh Al-Albani

Salah satu momen penting dalam kajian tersebut adalah ketika UAH menyoroti wasiat Syaikh Al-Albani sebelum wafat yang tercantum pada halaman 193–195 buku yang dibahas.

UAH mengutip pesan mendalam dari sang ulama yang dinilai sangat relevan dengan dinamika dakwah masa kini:

"Saya mewasiatkan kepada para da'i, para pembelajar untuk tidak saling mengejek, merendahkan, mencacimaki orang dalam menyampaikan risalah dakwahnya... Karena Anda menanggung dua beban berat: satu beban dakwah, yang kedua beban caci maki orang dalam dakwah itu."

Melalui kutipan tersebut, UAH mengingatkan para pencinta Syaikh Al-Albani untuk senantiasa menjaga adab dan tidak melanggar wasiat gurunya sendiri.

Kritik terhadap posisi keilmuan hendaknya disampaikan secara objektif tanpa berubah menjadi penghinaan atau permusuhan antarkelompok.

Otoritas Keilmuan dan Perbedaan Gelar

Sementara itu, Ustadz Muhammad Nuruddin memberikan penjelasan mendalam mengenai perbedaan istilah Muhaddits dan Bahitsul Hadits (peneliti/pengkaji hadis).

Ia mengutip pandangan Syaikh Abdullah bin Shiddiq Al-Ghumari yang menilai kapasitas Syaikh Al-Albani dalam bidang hadis dari sudut pandang metodologis.

Nuruddin mengilustrasikan bahwa banyak membaca buku tidak serta-merta menjadikan seseorang memiliki otoritas atau gelar keilmuan tertentu tanpa melalui proses belajar langsung kepada guru secara metodologis dalam kurun waktu yang panjang.

"Gelar semacam ini hanya layak disandang oleh orang-orang yang memiliki guru, belajar secara metodologis dengan kurun waktu yang panjang... Kalau saya membaca buku hadis... tapi tidak punya guru muhaddits, maka saya bukan muhaddits, sesederhana itu," tegasnya.

Di sisi lain, Gus Ajir Ubaidillah mengingatkan pentingnya mengikis fanatisme buta dalam menyikapi perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Ia turut mengutip hadis Nabi Muhammad SAW mengenai larangan fanatisme:

$$ليسَ منَّا مَنْ دعا إلى عصَبِيَّةٍ وليس مِنَّا مَنْ قاتَلَ علَى عصَبِيَّةٍ وليس مِنَّا مَنْ ماتَ علَى عصَبِيَّةٍ$$

(Artinya: "Tidak termasuk golongan kami orang yang mengajak pada fanatisme, bermusuhan karena fanatisme, dan mati dalam fanatisme buta.")

Distribusi Buku Wakaf

Buku yang menjadi objek kajian dalam acara ini dicetak melalui skema wakaf dan tidak untuk diperjualbelikan.

Untuk kegiatan di Bandung saja, panitia menyiapkan sekitar 3.000 paket buku bagi para peserta, dengan rencana total pencetakan mencapai 7.000 eksemplar guna memperluas literasi umat.

Melalui forum di UPI ini, diharapkan perdebatan keagamaan di ruang publik dapat bergeser dari sekadar "perang label" di media sosial menuju tradisi pembacaan referensi, penghargaan terhadap metodologi, serta penghormatan pada otoritas keilmuan yang proporsional.

(ameera/arrahmah.id)