Memuat...

Perang Tiga Tahun Hancurkan Ekonomi Gaza, Biaya Rekonstruksi Diperkirakan Tembus Rp1.000 Triliun

Zarah Amala
Jumat, 9 Oktober 2026 / 28 Rabiulakhir 1448 10:32
Perang Tiga Tahun Hancurkan Ekonomi Gaza, Biaya Rekonstruksi Diperkirakan Tembus Rp1.000 Triliun
(Foto: tangkapan video)

GAZA (Arrahmah.id) - Perang selama hampir tiga tahun telah menghancurkan sebagian besar perekonomian Jalur Gaza. Ribuan pabrik berhenti beroperasi, sektor pertanian terpuruk, dan jutaan warga menghadapi hilangnya sumber pendapatan serta lonjakan harga kebutuhan pokok.

Laporan Al Jazeera yang disusun Zaher Ali pada Kamis (8/10/2026) menyebutkan, sebelum perang terdapat sekitar 4.500 fasilitas industri di Gaza yang mempekerjakan lebih dari 53.000 orang. Namun, sekitar 90 persen fasilitas tersebut kini terdampak kerusakan, menyebabkan ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian.

Menurut laporan Konferensi PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), sekitar 92 persen fasilitas ekonomi Gaza mengalami kerusakan atau hancur sejak Oktober 2023. Kerusakan langsung pada sektor perdagangan dan industri diperkirakan melampaui 6 miliar dolar AS.

Produksi industri dan pertanian pada 2025 tercatat merosot sekitar 94 persen dibandingkan 2022. Sementara itu, aktivitas konstruksi turun hingga 99 persen, menurut laporan UNCTAD yang dirilis September 2026.

Dampak kehancuran ekonomi juga terlihat pada pasar tenaga kerja dan daya beli masyarakat. Tingkat pengangguran di Gaza mencapai 78 persen pada 2025. Pada tahun yang sama, tingkat harga barang secara keseluruhan tercatat 274 persen lebih tinggi dibandingkan 2022.

Kerusakan fisik akibat perang diperkirakan mencapai 35,2 miliar dolar AS, sedangkan kerugian ekonomi dan sosial akibat terhentinya aktivitas diperkirakan sebesar 22,7 miliar dolar AS. Angka tersebut berdasarkan penilaian bersama Bank Dunia, Uni Eropa, dan PBB.

Di sektor pertanian, kurang dari 1,5 persen lahan pertanian Gaza dilaporkan masih dapat diakses dan tidak mengalami kerusakan. Kondisi ini semakin membatasi kemampuan wilayah tersebut untuk menghasilkan pangan, menyediakan lapangan kerja, dan menopang pendapatan warga.

Kontraksi ekonomi juga memangkas kontribusi Gaza terhadap produk domestik bruto (PDB) Palestina. Dari sekitar 17,4 persen sebelum Oktober 2023, kontribusinya turun menjadi kurang dari 4 persen pada 2025.

Biaya Pemulihan Capai 71,5 Miliar Dolar

UNCTAD memperkirakan Gaza membutuhkan sekitar 71,5 miliar dolar AS untuk pemulihan dan rekonstruksi. Dana tersebut diperlukan untuk membangun kembali perumahan, infrastruktur, fasilitas ekonomi, serta memulihkan kapasitas produksi dan lapangan kerja.

Besarnya kebutuhan itu mencerminkan skala kerusakan yang tidak hanya menghantam bangunan dan fasilitas usaha, tetapi juga memutus rantai pasokan, menghambat distribusi barang, dan melemahkan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejak perang dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 74.000 warga Palestina dilaporkan gugur dan lebih dari 175.000 lainnya terluka. Sekitar 90 persen infrastruktur Gaza juga dilaporkan mengalami kerusakan. (zarahamala/arrahmah.id)