Memuat...

Petani Palestina Diserang dan Diusir Pemukim 'Israel' saat Panen Zaitun di Tepi Barat

Zarah Amala
Sabtu, 10 Oktober 2026 / 29 Rabiulakhir 1448 10:30
Petani Palestina Diserang dan Diusir Pemukim 'Israel' saat Panen Zaitun di Tepi Barat
Para pemukim menyerbu beberapa wilayah di Tepi Barat dan mencegah petani Palestina memanen zaitun (Al Jazeera)

TEPI BARAT (Arrahmah.id) - Pasukan 'Israel' dan para pemukim 'Israel' melancarkan serangkaian serangan terhadap warga Palestina di Tepi Barat pada Jumat (9/10/2026), bertepatan dengan musim panen zaitun. Serangan itu mencakup pemukulan terhadap warga, pengusiran petani dari lahan, pencurian hasil panen, pembakaran pohon zaitun, hingga penangkapan warga.

Komisi Perlawanan terhadap Tembok dan Permukiman Palestina mencatat 19 serangan pemukim 'Israel' sejak Jumat (9/10) pagi hingga tengah hari. Serangan menyasar petani Palestina beserta lahan dan harta benda mereka.

Kantor berita resmi Palestina, Wafa, melaporkan bahwa para pemukim menyerang Naif al-Ka'abneh dan dua anaknya setelah mereka meninggalkan permukiman Badui al-Ka'abneh di dekat Desa al-Taybah, sebelah timur Ramallah. Mereka dipukuli dan disemprot gas merica hingga harus mendapat perawatan medis.

Di Deir Ibzi, sebelah barat Ramallah, para pemukim menyerang petani yang sedang memanen zaitun, mencuri sebagian hasil panen, serta melukai seorang aktivis solidaritas asing. Pasukan 'Israel' kemudian menetapkan sebagian wilayah desa itu sebagai zona militer tertutup dan memaksa petani meninggalkan lahan mereka. Namun, menurut laporan Al Jazeera, serangan pemukim tetap berlanjut meski pembatasan tersebut telah diberlakukan.

Serangan juga terjadi di sejumlah wilayah lain. Di antara Desa Sarda dan kawasan permukiman al-Rayhan, utara Ramallah, puluhan pemukim bersenjata dilaporkan melempari kendaraan warga dengan batu dan melepaskan tembakan ke udara. Sementara itu, pasukan 'Israel' menembakkan gas air mata ke arah petani zaitun di wilayah Wadi al-Laban dan Gharaba, dekat Kota Abwein, serta melarang mereka memasuki lahan pertanian.

Di Desa Birin, sebelah timur Hebron, seorang perempuan berusia 79 tahun terluka setelah seekor anjing yang dilepaskan pemukim menyerang para pemanen zaitun. Di wilayah Wadi al-Sha'ir, Salfit, pemukim juga membakar pohon-pohon zaitun.

Penangkapan di Hebron

Secara terpisah, pasukan 'Israel' menangkap sembilan warga Palestina di Hebron, termasuk Direktur Masjid Ibrahimi, Moataz Abu Sneineh, dan pejabat yang bertanggung jawab atas pemeliharaan masjid, Hammam Abu Markhiya. Menurut Wafa, pasukan 'Israel' menggerebek sejumlah kawasan dan rumah warga sebelum melakukan penangkapan.

Pasukan 'Israel' juga menangkap dua mantan tahanan Palestina di Beita, selatan Nablus, serta menahan dan menginterogasi sejumlah warga dalam penggerebekan di Burqa, barat laut Nablus.

Di Desa al-Lubban al-Sharqiya, selatan Nablus, warga Palestina Mouayad Hussein mengaku menerima ancaman pembunuhan dan pembakaran dari pemukim setelah bendera 'Israel' dipasang di depan kafenya. Ia mengatakan tokonya telah dibakar dan dijarah sebanyak empat kali sebelumnya.

Ribuan serangan sepanjang September

Komisi Perlawanan terhadap Tembok dan Permukiman Palestina mencatat 2.051 serangan selama September, terdiri atas 1.404 serangan yang dilakukan pasukan 'Israel' dan 647 serangan oleh pemukim. Serangan paling banyak tercatat di wilayah Ramallah dan al-Bireh, Nablus, serta Hebron. Serangan pemukim selama bulan itu dilaporkan menewaskan tiga warga Palestina.

Dalam periode yang sama, otoritas 'Israel' melakukan 62 operasi pembongkaran yang berdampak pada 254 bangunan, termasuk 89 rumah yang dihuni dan 133 bangunan pertanian.

Komisi tersebut juga mencatat sekitar 14.600 pohon menjadi sasaran serangan, termasuk 9.334 pohon zaitun. Selain itu, sekitar 188 dunam lahan dilaporkan disita, sementara 21 upaya pembentukan pos permukiman baru teridentifikasi di sejumlah wilayah Tepi Barat.

Musim panen zaitun merupakan masa penting bagi kehidupan dan perekonomian keluarga petani Palestina. Namun, serangan, pencurian hasil panen, perusakan pohon, serta pembatasan akses ke lahan membuat banyak petani menghadapi risiko kekerasan saat berusaha memanen hasil kebun mereka. (zarahamala/arrahmah.id)