RIYADH (Arrahmah.id) -- Seorang pilot maskapai nasional Arab Saudi, Saudia, tewas bersama dua warga Saudi lainnya dalam dua serangan yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Kamis (8/10/2026). Otoritas penerbangan sipil Saudi mengonfirmasi korban jiwa pada Jumat (9/10), sementara milisi Syiah Houtsi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Insiden itu juga merusak pesawat Saudia dan melukai sejumlah orang.
Menurut laporan Gulf Business dan Arab News (9/10), pilot yang meninggal dunia diidentifikasi sebagai Kapten Hamoud Ali Al-Kalthami. Dia terkena serangan kedua Houtsi saat berada di atas pesawat Saudi Airlines yang tanpa penumpang. Saudia menyampaikan belasungkawa atas kematiannya dan memberikan penghormatan atas pengabdiannya kepada maskapai.
Milisi Houtsi, yang berbasis di Yaman dan didukung Iran, mengklaim telah melancarkan serangan menggunakan dua rudal jelajah ke Bandara Riyadh. Kelompok tersebut juga mengaku menargetkan bandara di Najran serta sebuah pangkalan udara di Khamis Mushait.
Serangan terbaru ini berlangsung ketika konflik antara pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi dan Houtsi kembali meningkat. Pasukan yang didukung Saudi melancarkan operasi untuk merebut kembali wilayah strategis di sepanjang pesisir Laut Merah, termasuk kawasan yang berdekatan dengan Selat Bab al-Mandab, jalur penting bagi pelayaran internasional. Houtsi kemudian meningkatkan serangan terhadap sejumlah sasaran di wilayah Saudi.
Dampak serangan juga meluas ke sektor penerbangan. Sejumlah maskapai membatalkan atau menangguhkan penerbangan menuju Riyadh, sementara otoritas keselamatan penerbangan Eropa memperluas peringatan risiko penerbangan di wilayah udara Saudi menyusul meningkatnya ancaman rudal dan drone. Gangguan tersebut menambah tekanan terhadap operasional bandara dan perjalanan udara regional.
Menanggapi serangan-serangan itu, koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah menghancurkan sejumlah fasilitas peluncuran rudal milik Houtsi di Yaman. Juru bicara koalisi memperingatkan bahwa serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil di Saudi tidak akan dibiarkan tanpa respons. Langkah tersebut berisiko memperluas eskalasi konflik yang selama bertahun-tahun telah menimbulkan krisis kemanusiaan di Yaman. (hanoum/arrahmah.id)
