Memuat...

Risalah Dakwah dan Do’a Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

Samir Musa
Senin, 5 Oktober 2026 / 24 Rabiulakhir 1448 16:04
Risalah Dakwah dan Do’a Ustadz Abu Bakar Ba’asyir
Risalah Dakwah dan Do’a Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

Pada Ahad, 4 Oktober 2026, kami berkesempatan bersilaturahim dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di rumah sakit. Kami yang menemui beliau adalah Irfan S. Awwas, M. Shabbarin Syakur, dan Tofandi.

Beliau duduk di kursi roda. Usia dan kondisi fisik tampak membatasi geraknya, tetapi tidak mengurangi ketegasan suara dan kelugasan bicaranya.

Dalam dialog sekitar 30 menit, beliau menyampaikan dua pesan yang sederhana, tetapi memiliki bobot pemikiran yang mendalam: dakwah dan do’a.

1. DAKWAH: MENGINGATKAN MANUSIA KEPADA SYARIAT ALLAH

Menurut beliau, dakwah tidak boleh berhenti pada ceramah dan penyampaian nasihat keagamaan. Dakwah harus menjadi ikhtiar untuk terus mengingatkan manusia agar melaksanakan syariat Islam dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan kehidupan bernegara.

Beliau juga menekankan pentingnya para dai, ulama, dan kiai pesantren mengambil peran untuk mengingatkan pemerintah secara langsung. Kritik terhadap kekeliruan pemerintah, menurut pesan yang beliau sampaikan, jangan hanya dilakukan dari jauh atau melalui ruang publik. Jika ada kebijakan atau tindakan yang dinilai keliru, para ulama dan tokoh agama perlu datang, bertemu, dan menyampaikan nasihat secara langsung kepada para pemegang kekuasaan.

Dengan cara demikian, dakwah kepada penguasa tidak berhenti sebagai kritik, tetapi menjadi nasihat yang disampaikan dengan tanggung jawab moral dan keagamaan.

Beliau menekankan bahwa negara mempunyai peran penting dalam menghadirkan hukum Allah demi kemaslahatan rakyat Indonesia. Negara, menurut pandangan yang disampaikannya, tidak cukup hanya menampung aspirasi umat Islam, tetapi perlu menyadari bahwa berbagai problem bangsa tidak akan dapat diselesaikan secara tuntas tanpa menjadikan nilai-nilai syariat sebagai landasan kehidupan.

Pesan tersebut ditujukan kepada pemerintah, DPR, MPR, dan DPA. Pada saat yang sama, pesan itu menegaskan makna dakwah yang beliau maksud: menyampaikan kebenaran, mengingatkan penguasa, dan mengajak masyarakat kepada kebaikan—bukan memaksakan kehendak dengan kekerasan.

Dakwah adalah tugas menyampaikan. Hidayah dan perubahan adalah kehendak Allah.

2. DO’A: PERINGATAN TANPA KEKERASAN, HARAPAN TANPA BATAS

Pesan kedua tidak kalah penting: sampaikan peringatan tanpa kekerasan.

Kebenaran tetap harus disampaikan, tetapi penyampaiannya tidak harus melalui kekerasan. Bahkan ketika berhadapan dengan penguasa yang zalim, harapan tidak boleh diputus. Penguasa yang hari ini dianggap zalim pun tetap memiliki kemungkinan untuk berubah apabila Allah menghendakinya.

Di titik inilah do’a memperoleh makna perjuangan. Do’a bukan sikap pasif untuk menunggu perubahan, melainkan bentuk pengharapan kepada Allah agar manusia, masyarakat, dan para pemegang kekuasaan diberi petunjuk menuju kebenaran.

Beliau mengingatkan do’a Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk sebuah negeri:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 126)

Do’a Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa kecintaan kepada negeri tidak bertentangan dengan seruan kepada iman dan syariat. Keamanan, kesejahteraan, keadilan, dan keimanan merupakan bagian dari cita-cita kehidupan yang baik.

Dari pertemuan singkat itu, pesan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dapat diringkas dalam satu kalimat:

Dakwah menyampaikan kebenaran. Nasihat disampaikan langsung. Do’a memohonkan hidayah. Keduanya tidak membutuhkan kekerasan.

Dan mungkin inilah pesan paling penting dari seorang tua yang tubuhnya telah melemah, tetapi keyakinannya belum kehilangan suara:

Jangan berhenti mengingatkan kepada kebenaran. Jangan hanya mengkritik dari jauh. Datanglah, nasihati penguasa secara langsung, dan jangan kehilangan harapan terhadap perubahan manusia. Sebab hati manusia berada dalam genggaman Allah.

Yogyakarta, Senin, 5 Oktober 2026

IRFAN S. AWWAS

(*/arrahmah.id)