RIYADH (Arrahmah.id) - Sebanyak 12 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka dalam serangan rudal pada Sabtu (10/10/2026) yang menyasar Bandara Internasional King Khalid (KKIA) di ibu kota Kerajaan tersebut; demikian diumumkan oleh Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA) pada Ahad dini hari, seperti dilansir Arab News.
Dalam sebuah pernyataan, GACA menyebutkan bahwa korban tewas mencakup empat warga negara Arab Saudi serta dua warga negara Bangladesh, seorang warga Palestina, seorang warga AS, seorang warga Mesir, seorang warga Yordania, seorang warga Suriah, dan seorang warga Sudan.
"Serangan tersebut juga menyebabkan 309 orang lainnya terluka, termasuk mereka yang berada dalam kondisi kritis," bunyi pernyataan itu.
Beberapa jam setelah serangan tersebut, juru bicara Koalisi Pendukung Legitimasi di Yaman mengumumkan bahwa Bandara Internasional King Fahd di Dammam—bandara utama di wilayah timur Arab Saudi—juga menjadi sasaran serangan. Mayor Jenderal Turki Al-Maliki mengumumkan insiden tersebut melalui sebuah unggahan di platform X.
Ini merupakan kali pertama Bandara Internasional King Fahd, salah satu pusat transportasi tersibuk di Kerajaan tersebut, menjadi sasaran serangan sejak konflik yang melibatkan Iran meletus pada 28 Februari.
Menyusul serangan terhadap KKIA pada Sabtu, GACA menyatakan bahwa operasional bandara dihentikan sementara waktu sembari dilakukan penilaian terhadap kerusakan yang terjadi.
"Serangan ini terjadi di tengah rangkaian serangan terang-terangan yang terus berlangsung dan menyasar fasilitas penerbangan sipil di Kerajaan ini," ungkap pihak otoritas tersebut.
Menurut situs pelacakan penerbangan FlightAware, setidaknya 291 penerbangan di bandara Riyadh telah dibatalkan dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Sebelum serangan terbaru ini, Air India, FlyDubai, Lufthansa Group, dan Pakistan International Airlines termasuk di antara maskapai yang menangguhkan penerbangan dari dan ke Riyadh serta bandara-bandara lain di Arab Saudi untuk jangka waktu yang bervariasi.
Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) telah memperluas panduannya terkait wilayah udara Arab Saudi, dengan menyoroti kemampuan kelompok Houthi untuk menyerang target-target yang lebih jauh di dalam wilayah kerajaan—termasuk Riyadh—serta adanya "fokus yang lebih besar terhadap infrastruktur penerbangan."
Serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) beserta upaya pencegatannya "menimbulkan peningkatan risiko kesalahan identifikasi terhadap pesawat sipil," demikian pernyataan badan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan bahwa mereka yang tidak dapat mencapai tujuan di Kerajaan tersebut dari luar negeri akibat gangguan ini sebaiknya menghubungi perwakilan diplomatik Saudi di negara tempat mereka berada untuk meminta bantuan.
Sebelumnya, Bandara Internasional King Khalid telah mengimbau para penumpang untuk menghubungi maskapai penerbangan masing-masing sebelum berangkat ke bandara.
Serangan ini terjadi setelah tiga orang, termasuk seorang pilot Saudia, tewas pada hari Kamis akibat serangan terhadap bandara yang dilancarkan oleh milisi Houtsi dari Yaman.
Serangan lain terhadap KKIA pada hari Rabu menewaskan seorang pria asal Sudan, dan sehari sebelumnya, dua wanita tewas ketika milisi tersebut menyerang Bandara Internasional Abha di provinsi Asir.
Serangan-serangan ini menuai kecaman luas dari dunia internasional, disertai seruan agar kelompok yang didukung Iran tersebut berhenti menargetkan infrastruktur sipil.
Koalisi Pendukung Legitimasi di Yaman mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka telah meluncurkan "operasi berskala besar" terhadap Houtsi, yang menghancurkan lebih dari 130 target.
Houtsi telah meningkatkan serangan mereka terhadap Arab Saudi dalam beberapa minggu terakhir, dengan menargetkan Riyadh, Abha, Khamis Mushayt, Jazan, dan Najran.
Bulan lalu, kelompok tersebut mencoba menyerang Mekkah dan menghantam gardu distribusi listrik yang memasok daya ke Masjid Nabawi di Madinah, menurut keterangan koalisi.
Pekan ini, kelompok tersebut menargetkan infrastruktur penerbangan sipil Kerajaan dengan serangan yang mematikan.
Seorang wanita asal Maroko dan seorang wanita asal Aljazair tewas dalam serangan hari Selasa di Bandara Abha, yang terletak tidak jauh dari perbatasan Yaman. Sehari kemudian, mereka menyerang bandara Riyadh dan menewaskan pria asal Sudan tersebut. Puluhan orang terluka dalam serangan-serangan itu, termasuk banyak warga negara asing.
Kemudian pada Kamis, Houtsi melancarkan dua serangan lagi terhadap bandara Riyadh. Serangan pertama menghantam fasilitas bandara, menurut GACA, dan menewaskan dua warga negara Saudi.
Serangan berikutnya menghantam pesawat Saudia saat berada di landasan, menewaskan pilot Kapten Hamoud Ali AlKalthami.
CEO Saudia, Ibrahim Al-Omar, memberikan penghormatan kepada AlKalthami, seraya menyebut bahwa karier sang pilot penuh dengan "dedikasi dan ketulusan."
Guncangan akibat serangan terang-terangan terhadap infrastruktur sipil vital ini terasa hingga ke seluruh dunia, memicu gelombang kemarahan.
Sekretaris Jenderal GCC, Jasem Mohamed Albudaiwi, menyerukan tindakan internasional yang serius untuk mencegah aksi Houtsi lebih lanjut.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyatakan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil tidak dapat diterima dan mendesak Houtsi untuk menghentikan tindakan nekat serta kekerasan mereka. Wakil Tetap Arab Saudi untuk PBB, Abdulaziz Alwasil, mengatakan kepada Dewan Keamanan pada Jumat bahwa Riyadh tidak akan membiarkan Yaman menjadi landasan peluncuran serangan terhadap Kerajaan tersebut atau ancaman bagi pelayaran di Laut Merah. (haninmazaya/arrahmah.id)
