Memuat...

Smotrich Tega Perpanjang Perang Gaza demi Gengsi Politik, Tawanan Jadi Korban

Samir Musa
Selasa, 1 Juli 2025 / 6 Muharam 1447 14:46
Smotrich Tega Perpanjang Perang Gaza demi Gengsi Politik, Tawanan Jadi Korban
Smotrich (kanan) didorong oleh keinginannya untuk terlihat lebih ekstrem daripada Ben Gvir dalam bersikap keras (sumber: kantor berita).

TEL AVIV (Arrahmah.id) — Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh surat kabar “Ma’ariv”, penulis Israel Sophie Ron-Moria menuduh Menteri Keuangan “Israel” Bezalel Smotrich sebagai sosok yang memperpanjang perang di Gaza dan menggagalkan upaya pertukaran tawanan, demi ambisi politik pribadinya.

Menurut Moria, sikap Smotrich tidak didasarkan pada ideologi atau kebijakan strategis yang matang, melainkan lahir dari persaingan internal antar kubu sayap kanan ekstrem, di mana masing-masing tokoh berusaha tampil lebih “garang” dibanding lawannya, meski harus mengorbankan nyawa tentara dan tawanan.

Pemerintah “Israel” Kontradiktif

Moria menyoroti ironi keputusan pemerintah yang justru mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Iran dan Hizbullah, sementara menolak kesepakatan serupa dengan Hamas di Gaza, padahal pembicaraan pertukaran tawanan telah menunjukkan kemajuan.

Ia mengungkapkan bahwa sehari setelah deklarasi gencatan senjata dengan Iran, publik “Israel” dikejutkan oleh kabar tewasnya tujuh serdadu “Israel” dan empat lainnya sebelumnya gugur dalam konfrontasi dengan Teheran. Kehilangan besar itu justru terjadi dalam pertempuran melawan “organisasi kecil” seperti Hamas, bukan dalam perang melawan kekuatan regional besar seperti Iran atau Hizbullah.

Kebohongan Kubu Ekstremis

Moria menuduh tokoh-tokoh seperti Smotrich dan Itamar Ben Gvir menyebarkan “kebohongan politik”, yakni bahwa kesepakatan pertukaran tawanan akan mencederai pengorbanan tentara. Narasi itu, menurutnya, merupakan alat untuk melegitimasi kelanjutan perang, padahal kenyataannya perang yang berlarut-larut justru meningkatkan risiko terhadap tentara dan tidak menghasilkan kemenangan militer strategis.

Ia menegaskan bahwa alasan menghancurkan Hamas hanyalah dalih kosong, mengingat “Israel” tidak pernah benar-benar menghancurkan Hizbullah maupun rezim Iran — namun anehnya, perang melawan keduanya tidak dianggap sebagai “perang eksistensial”.

Motif Politik Smotrich dan Upaya Menyaingi Ben Gvir

Moria berpendapat bahwa Smotrich tidak sungguh-sungguh ingin menguasai Gaza secara penuh, karena ia sadar itu mustahil. Sebaliknya, sikap kerasnya lahir dari persaingan dalam internal sayap kanan ekstrem. Sejak popularitasnya anjlok akibat dukungan terhadap kesepakatan pertukaran tawanan pertama pada akhir 2023 —yang ditentang keras Ben Gvir— Smotrich terus berupaya tampil sebagai sosok paling “garang” dalam pemerintahan, bahkan lebih ekstrem dari Ben Gvir.

Ia pun menyamakan Smotrich dengan Menteri Permukiman Orit Strock, yang juga dikenal vokal dan kaku. Moria menyebut bahwa obsesi Smotrich untuk menghalangi kesepakatan tawanan bertujuan agar Hamas tidak memperoleh kemenangan simbolik.

Mengabaikan Logika dan Nilai

Moria menilai Smotrich telah mengorbankan nilai-nilai, bahkan logika politik, demi ambisi pribadi. Ia menyimpulkan bahwa setelah kesepakatan baru disepakati —atas desakan Presiden AS Donald Trump— Smotrich kemungkinan akan mendorong agar kesepakatan itu dibagi menjadi beberapa tahap, berharap bisa menarik tentara “Israel” satu per satu dari reruntuhan Gaza.

(Samirmusa/arrahmah.id)