Memuat...

Trump Pastikan AS Tak Akan Serang Iran Sebelum Pemilu Paruh Waktu

Zarah Amala
Jumat, 9 Oktober 2026 / 28 Rabiulakhir 1448 11:48
Trump Pastikan AS Tak Akan Serang Iran Sebelum Pemilu Paruh Waktu
Trump berbicara di sebuah acara di Washington, DC, pada 8 Oktober 2026. [Getty]

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (8/10/2026) menyatakan Washington tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November mendatang. Ia mengatakan, AS dan Iran tengah menggelar pembicaraan yang disebutnya produktif.

Pernyataan Trump melalui platform Truth Social itu muncul di tengah kenaikan harga minyak dunia, setelah sejumlah media AS melaporkan bahwa Washington tengah menyiapkan opsi serangan baru terhadap Iran sebelum pemilu.

“Saya ingin menegaskan kepada semua orang bahwa meskipun kondisi Iran sangat buruk, baik secara ekonomi maupun militer, dan blokade akan tetap diberlakukan sepenuhnya, kami tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilu paruh waktu,” tulis Trump.

“Kami sedang menggelar pembicaraan produktif dengan Republik Islam Iran,” tambahnya tanpa memberikan perincian lebih lanjut.

Majalah The Atlantic pada Rabu (7/10) melaporkan bahwa Gedung Putih meminta Pentagon menyiapkan sejumlah opsi untuk menyerang target-target di Iran sebelum pemilu. The New York Times menerbitkan laporan serupa pada Kamis (8/10), dengan menyebut persiapan itu tetap berjalan meski Trump belum sepenuhnya mantap mengambil keputusan.

Kenaikan harga minyak juga dipengaruhi ketegangan berkepanjangan di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia, serta konflik antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan Arab Saudi.

Pada Rabu (7/10), badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan sebuah kapal tanker minyak yang berlayar di lepas pantai utara Qatar terkena sejumlah proyektil. Insiden tersebut menimbulkan korban dalam jumlah yang belum dirinci.

Kenaikan harga bahan bakar menjadi salah satu persoalan yang membebani Trump dan Partai Republik menjelang pemilu. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan ketidakpuasan warga AS terhadap meningkatnya biaya bahan bakar yang dikaitkan dengan konflik antara AS-'Israel' dan Iran yang pecah pada Februari lalu.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali menyatakan AS telah memenangkan perang melawan Iran. Namun, pernyataan itu belum meredakan kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan harga energi dan biaya hidup.

Trump juga sebelumnya mengatakan harga minyak akan turun setelah perang berakhir. Namun, pernyataan tersebut belum cukup meyakinkan para pemilih.

Pemilu paruh waktu pada November akan menentukan komposisi Kongres AS untuk dua tahun terakhir masa jabatan Trump. Partai Republik saat ini memiliki mayoritas tipis di Kongres dan berisiko kehilangan kendali jika Partai Demokrat memperoleh lebih banyak kursi.

Meski Trump tidak ikut bertarung dalam pemilu tersebut, ia aktif berkampanye melalui sejumlah rapat umum untuk membantu Partai Republik mempertahankan posisinya. Trump juga memperingatkan kemungkinan menghadapi pemakzulan ketiga jika Partai Demokrat kembali menguasai Dewan Perwakilan Rakyat. Gedung Putih pun bersiap menghadapi serangkaian penyelidikan terkait dugaan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Pada Kamis (8/10), Trump juga berusaha meredakan polemik atas pernyataannya dalam sebuah rapat umum awal pekan ini. Saat itu, ia mengatakan Iran bisa menghancurkan kota Los Angeles dan San Diego.

Trump menyalahkan media yang disebutnya menyebarkan berita palsu dan dibuat-buat karena dianggap salah menafsirkan ucapannya. Pernyataan tersebut sebelumnya menuai kritik dari Partai Demokrat.

Trump menjelaskan bahwa maksud ucapannya adalah kenaikan sementara harga bensin merupakan harga kecil yang harus dibayar agar Iran tidak memiliki senjata nuklir.

“Namun, bisakah Anda membayangkan betapa besarnya harga yang harus dibayar jika mereka mengebom San Diego dan/atau Los Angeles?” tulis Trump. (zarahamala/arrahmah.id)