Generasi modern saat ini terbiasa mendapatkan segala sesuatu dalam waktu singkat. Apakah itu berupa barang, makanan bahkan sebuah jawaban. Apabila ada pertanyaan yang menggelitik di kepala, cukup mengetik beberapa kata di layar ponsel pintar, dalam hitungan detik jawaban pun akan muncul. Tak terkecuali pertanyaan tentang agama yang kemudian memunculkan istilah Ustadz AI.
Di tengah budaya serba instan seperti saat ini, hadir kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang memenuhi tuntutan itu. Mereka mudah diakses, cepat dan tersedia kapan saja di mana saja. Fenomena ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Pakar AI dari ITB, Ayu Purwarianti, menjelaskan bahwa Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT bekerja dengan mekanisme next token prediction, yaitu memprediksi kata berikutnya berdasarkan probabilitas. AI mampu menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya mereka tidak benar-benar memahami makna dari jawaban mereka itu. Karena memang mereka tidak memiliki pemahaman seperti manusia dan hanya mengolah data. Oleh karena itu, AI masih berpotensi menghasilkan informasi yang keliru sehingga setiap jawabannya tetap harus dikritisi dan diverifikasi.
Kementerian Agama pun mengingatkan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti ustadz atau ulama. Sebab, hukum dan fatwa dalam Islam bersumber dari Al-Qur'an, Sunah, Ijmak, dan Qiyas melalui proses ijtihad yang dilakukan oleh ulama yang memiliki kompetensi dan sanad keilmuan. (www.khazanah.republika.co.id, 2 Juli 2026)
Persoalannya, mengapa masyarakat justru semakin sering bertanya kepada AI?
Barangkali jawabannya bukan semata karena AI semakin hari semakin canggih, melainkan karena AI lebih mudah dijangkau daripada orang yang seharusnya menjadi rujukan.
Ketika muncul persoalan terkait hukum atau fikih agama Islam dalam aktivitas sehari-hari, masyarakat lebih mudah membuka aplikasi melalui ponsel di genggaman daripada melangkahkan kaki mencari majelis ilmu atau menghubungi ustadz/ulama.
Di sinilah tantangan dakwah hari ini. Kecepatan menjadi kebutuhan masyarakat modern. Jika ruang itu tidak segera diisi oleh para ulama, maka teknologi akan mengambil alih sebagai tempat pertama orang-orang mencari jawaban.
Tentu, AI tidak akan pernah menggantikan kedalaman ilmu, kebijaksanaan, maupun kemampuan seorang ulama memahami konteks persoalan. AI tidak mampu berijtihad, tidak memiliki tanggung jawab moral, dan tidak dapat mempertimbangkan aspek emosional. Namun, apalah arti keunggulan itu apabila ulama sulit diakses oleh umat.
Sudah saatnya para ustadz dan ulama lebih hadir di tengah masyarakat dengan cara yang mudah dijangkau, cepat merespons, dan memanfaatkan teknologi sebagai sarana pelayanan dakwah mereka. Kehadiran mereka tidak boleh terasa eksklusif, hanya bisa ditemui dalam forum tertentu atau melalui jalur yang rumit bahkan kadangkala membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Umat membutuhkan ruang bertanya yang terbuka, ramah, dan responsif, baik melalui kajian, media sosial, layanan konsultasi, maupun platform digital lainnya.
Jika ulama mampu hadir dengan cepat ketika umat membutuhkan bimbingan, masyarakat tidak akan menjadikan AI sebagai rujukan utama dalam mencari jawaban agama. AI cukup menjadi langkah awal untuk memperoleh informasi, sedangkan kepastian hukum dan bimbingan tetap berasal dari ulama yang memiliki ilmu dan integritas.
Teknologi bukanlah musuh bagi ulama, justru ia dapat menjadi kendaraan dakwah yang sangat efektif. Namun, kendaraan secanggih apa pun tetap membutuhkan pengemudi yang benar. Dalam urusan agama, pengemudi itu adalah para ulama. Tantangan kita hari ini adalah memastikan bahwa suara ulama tetap menjadi suara yang paling dekat, paling mudah dijangkau, dan paling dipercaya oleh umat.
