BANDUNG (Arrahmah.id) - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) terus menunjukkan kemajuan industri dirgantara nasional melalui pengembangan pesawat N219 yang dirancang sepenuhnya oleh para insinyur Indonesia.
Pesawat multifungsi tersebut diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan konektivitas transportasi udara, khususnya di wilayah terpencil dan pelosok Tanah Air.
Inovasi pesawat buatan anak bangsa itu diperlihatkan langsung di area pabrik PT DI di Kota Bandung dalam kegiatan peninjauan berbagai produk dirgantara nasional yang berlangsung pada Selasa, 14 Juli 2026.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian media gathering bersama Artotel Group yang diikuti Sindikasi Media Network (SMN).
Flight Test Engineer PT Dirgantara Indonesia, Fendy Augustian, menjelaskan bahwa pengembangan N219 melalui proses panjang untuk memenuhi standar keselamatan penerbangan internasional.
Menurutnya, pesawat tersebut telah mengantongi Type Certificate dari Kementerian Perhubungan sejak 2020.
"Ini sudah mendapatkan 'type certificate' dari Kementerian Perhubungan dari tahun 2020. Cuma setelah waktu itu kan Covid, jadi kita agak tersendat untuk penjualannya. Dan alhamdulillah saat ini kita sudah mendapat pesanan dari TNI AD dan PT MAP," ujar Fendy.
Ia mengatakan, PT DI kini terus mematangkan persiapan produksi pesawat yang dipesan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).
Keberhasilan merancang N219 secara mandiri menjadi bukti kemampuan sumber daya manusia Indonesia dalam mengembangkan teknologi dirgantara berstandar internasional.
"Kalau N250 kan dulu masih banyak tenaga asing, Pak, untuk kita perbantuan untuk kita mendesain dan segala macam. Kalau ini 'full' anak bangsa kita sendiri. Jadi mulai dari 'raw material' dari lembaran aluminium sampai jadi pesawat, ini ada semuanya di PT DI," katanya.
Sementara itu, Manajer Komunikasi Perusahaan dan Hubungan Kelembagaan PT Dirgantara Indonesia, Adi Prastowo, mengungkapkan bahwa industri dirgantara nasional sempat mengalami masa sulit akibat krisis moneter pada akhir 1990-an.
Meski demikian, PT DI mampu bertahan dan terus mengembangkan produk-produk unggulannya.
"PT DI berdiri sejak tahun 1976 hingga sekarang, artinya masih ada ya. PT DI dengan produk mercusuarnya pada saat itu di zamannya Pak BJ Habibie, N250," ujar Adi.
Ia menjelaskan, setelah program N250 dihentikan pada 1998, PT DI tetap melanjutkan pengembangan pesawat lain yang kini menjadi andalan perusahaan di pasar global.
"Jadi, setelah N250 distop pada tahun '98, kita masih punya produk yang namanya CN235, sampai sekarang masih berproduksi, masih kita pasarkan dengan cukup baik. Kemudian NC212, itu pun sama, kita masih kembangkan dan CN235 dan NC212 hanya satu-satunya di dunia yang memproduksi adalah PT DI," ucapnya.
Menurut Adi, pengakuan dari pasar internasional terhadap produk-produk PT DI menjadi bukti bahwa industri dirgantara Indonesia memiliki daya saing tinggi.
Karena itu, regenerasi sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan inovasi dan produksi pesawat nasional.
Dengan semangat inovasi yang terus dipertahankan, PT DI optimistis mampu memperkuat kedaulatan teknologi dirgantara Indonesia sekaligus memperluas kontribusinya dalam meningkatkan konektivitas udara nasional.
Di tengah tantangan ekonomi yang terus berkembang, komitmen memproduksi pesawat karya anak bangsa tetap menjadi prioritas demi mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
(ameera/arrahmah.id)
