DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Otoritas Suriah mengumumkan penangkapan seorang mantan perwira tinggi yang diduga menjadi tokoh kunci di balik program senjata kimia pada era pemerintahan Bashar al-Assad. Penangkapan tersebut dinilai sebagai langkah penting dalam upaya pemerintah baru Suriah mengusut dugaan kejahatan perang yang terjadi selama konflik berkepanjangan di negara itu.
Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan, seperti dilansir Al Jazeera (15/7/2026), bahwa pasukan keamanan berhasil menangkap Kolonel Ahmad Habib Ali, seorang mantan perwira yang disebut memiliki keahlian khusus di bidang senjata kimia.
Menurut pemerintah Suriah, Ahmad Habib Ali bertanggung jawab atas fasilitas penyimpanan gas sarin serta mengawasi proses produksi senjata kimia di Unit 417, salah satu pusat penyimpanan dan pengembangan senjata kimia penting milik rezim Assad di dekat Damaskus.
Pihak berwenang menuduh Ahmad Habib Ali terlibat dalam pengembangan bom berisi gas sarin yang diduga digunakan dalam sejumlah serangan mematikan selama perang saudara Suriah.
Otoritas Suriah menyebut perwira tersebut memiliki peran langsung dalam rantai komando program senjata kimia yang selama bertahun-tahun menjadi sorotan dunia internasional dan memicu berbagai investigasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW).
Dalam keterangannya, Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan, "Tersangka merupakan ahli senjata kimia yang bertanggung jawab atas fasilitas penyimpanan gas sarin dan kegiatan manufaktur senjata kimia di Unit 417," kata juru bicara kementerian.
Pernyataan itu menegaskan bahwa pemerintah baru Suriah berkomitmen memburu seluruh pihak yang terlibat dalam kejahatan perang pada masa pemerintahan sebelumnya.
Penangkapan ini terjadi di tengah upaya Damaskus memperbaiki hubungan dengan komunitas internasional setelah tumbangnya Bashar al-Assad.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Presiden Ahmad asy-Syaraa berulang kali menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan OPCW untuk mengidentifikasi dan memusnahkan sisa-sisa persenjataan kimia yang diwariskan rezim lama. Bahkan, pekan lalu OPCW mengembalikan hak suara Suriah setelah menilai adanya perubahan signifikan dan kerja sama yang lebih terbuka dari pemerintah baru.
Berbagai investigasi internasional sebelumnya menyimpulkan bahwa pasukan pemerintah Assad menggunakan gas sarin dan bom klorin dalam sejumlah serangan selama perang saudara yang pecah sejak 2011.
Serangan-serangan tersebut menyebabkan ribuan korban jiwa dan luka-luka serta memicu kecaman luas dari dunia internasional. Pemerintah Assad dan sekutunya saat itu berulang kali membantah tuduhan tersebut, namun temuan PBB dan OPCW terus menjadi dasar berbagai proses hukum internasional. (hanoum/arrahmah.id)
