WASHINGTON (Arrahmah.id) – Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, melontarkan kritik tajam terhadap hubungan Washington dengan "Israel". Dalam wawancara panjang di podcast The Joe Rogan Experience yang ditayangkan pada Rabu (15/7/2026), Vance menuduh pihak-pihak di pemerintahan "Israel" berupaya memengaruhi kebijakan politik Amerika Serikat, termasuk menggagalkan jalur diplomasi dengan Iran.
Vance mengatakan terdapat upaya dari kalangan pemerintah "Israel" untuk menghalangi perundingan antara Washington dan Teheran. Menurutnya, sejumlah pihak berusaha mendorong Amerika agar terus terlibat dalam konfrontasi dengan Iran alih-alih menempuh penyelesaian diplomatik.
Ia juga mengutip laporan majalah Time yang menyebut adanya kampanye pengaruh rahasia yang didanai "Israel" untuk menghambat proses negosiasi dengan Iran. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa dana disalurkan melalui mantan anggota tim kampanye Donald Trump kepada sejumlah influencer Amerika guna menyerang kesepakatan dengan Iran, bahkan menyerang Vance secara pribadi.
Vance menegaskan dirinya meyakini ada tokoh-tokoh di pemerintahan "Israel" yang berusaha membentuk opini publik Amerika dan memengaruhi arah kebijakan luar negeri Washington agar tetap berada di jalur perang.
Meski demikian, ia menilai Presiden Donald Trump tetap akan mengambil tindakan militer terhadap Iran, sekalipun tanpa adanya tekanan dari "Israel", karena keyakinannya bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Popularitas "Israel" Menurun di Amerika
Dalam wawancara tersebut, Vance juga menyatakan bahwa "Israel" saat ini tengah kehilangan dukungan publik di Amerika Serikat, terutama di kalangan generasi muda. Menurutnya, terdapat perbedaan pandangan yang semakin lebar antara pemilih muda dan kelompok konservatif berusia lanjut.
Ia menyetujui pandangan Joe Rogan bahwa persepsi mengenai besarnya pengaruh "Israel" terhadap politik Amerika turut menjadi salah satu penyebab menurunnya citra negara tersebut di mata masyarakat AS.
Meski mengakui adanya upaya lobi dari "Israel", Vance menegaskan bahwa ia tetap memandang negara itu sebagai sekutu Amerika, sebagaimana Prancis atau Inggris. Namun, hubungan antarsekutu, katanya, tidak berarti harus selalu sepakat dalam setiap kebijakan.
Vance juga mengaku pernah dituduh anti-Semit dan anti-"Israel" hanya karena menyerukan agar kebijakan luar negeri Amerika didasarkan pada kepentingan nasional AS.
Singgung Kaitan Jeffrey Epstein dengan Intelijen
Dalam pembahasan lain, Vance turut menyinggung nama Jeffrey Epstein, pengusaha Amerika yang telah divonis dalam kasus kejahatan seksual.
Menurut Vance, Epstein memiliki hubungan dengan kalangan intelijen tingkat tinggi, baik di Amerika Serikat maupun "Israel". Ia menyebut jaringan Epstein di "Israel" lebih banyak terhubung dengan kelompok yang berhaluan kiri-tengah, meskipun pemerintahan negara tersebut saat ini dipimpin kubu kanan.
Menanggapi spekulasi bahwa dokumen Epstein digunakan untuk menekan pemerintahan Trump agar berperang melawan Iran, Vance mengatakan dirinya tidak mempercayai teori tersebut dan menyebutnya sebagai gagasan yang tidak masuk akal.
Namun, ia mengkritik Gedung Putih karena dinilai gagal menangani komunikasi publik terkait dokumen Epstein.
"Kami benar-benar gagal dalam mengelola komunikasi mengenai berkas Epstein. Seharusnya dokumen itu dipublikasikan sejak awal. Tetapi saya tidak percaya kegagalan itu terjadi karena ada sesuatu yang sengaja disembunyikan," ujar Vance.
Pengamat: Vance Sedang Membaca Arah Opini Publik
Menanggapi pernyataan tersebut, pakar ilmu politik Universitas Jenewa, Dr. Husni Abidi, menilai Vance berbicara layaknya sedang memasuki kampanye politik lebih awal.
Menurutnya, Vance berusaha menangkap perubahan opini publik Amerika yang semakin menolak keterlibatan negaranya dalam perang. Sejumlah survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak menginginkan konflik berkepanjangan dan menilai "Israel" telah menyeret Washington ke dalam konfrontasi tersebut.
Sementara itu, mantan diplomat Amerika Marlin Hardinger mengatakan perdebatan di internal pemerintahan AS saat ini mencerminkan pertarungan antara kelompok yang menginginkan konfrontasi dengan Iran dan kelompok yang lebih memilih jalur diplomasi.
Ia menilai Vance berupaya menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap dapat mengambil keputusan berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri tanpa harus selalu mengikuti keinginan "Israel".
(Samirmusa/arrahmah.id)
