LONDON (Arrahmah.id) -- Seorang aktivis difabel berusia 78 tahun bernama Said Patel kembali menjadi sorotan di Inggris setelah aksinya mengunci diri di dalam sebuah kendaraan van untuk menghambat aktivitas fasilitas yang dituduh terlibat dalam produksi drone militer yang digunakan 'Israel'.
Patel menyatakan, seperti dilansir Al Jazeera (9/7/2026), tindakannya dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina dan protes terhadap industri pertahanan yang menurutnya berkontribusi terhadap konflik di Gaza.
Aksi tersebut berlangsung di tengah meningkatnya demonstrasi pro-Palestina di berbagai kota di Inggris.
Patel, yang menggunakan kursi roda dan telah lama aktif dalam berbagai kampanye sosial, mengatakan bahwa aksinya bukan semata-mata untuk Palestina, melainkan juga untuk membela nilai-nilai kemanusiaan secara universal.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, ia terlihat berada di dalam kendaraan yang digunakan untuk menghalangi akses menuju lokasi yang menjadi sasaran protes.
Aksi tersebut merupakan bagian dari gelombang demonstrasi yang menuntut penghentian dukungan terhadap operasi militer 'Israel' di Gaza.
"Ini demi kemanusiaan. Ini demi anak-anak di seluruh dunia," kata Said Patel dalam rekaman video yang beredar dan dikutip sejumlah media serta aktivis yang mengikuti aksi tersebut.
Pernyataan itu menjadi simbol pesan yang ingin disampaikan Patel bahwa konflik bersenjata tidak hanya berdampak pada satu kelompok masyarakat, tetapi juga terhadap generasi mendatang secara global.
Menurut kelompok pendukungnya, Patel telah beberapa kali ditangkap oleh aparat Inggris berdasarkan ketentuan hukum terkait terorisme setelah secara terbuka menyatakan dukungan terhadap kelompok Palestine Action, organisasi yang telah dilarang oleh pemerintah Inggris.
Penangkapan tersebut memicu perdebatan mengenai batas antara kebebasan berekspresi, hak untuk melakukan protes politik, dan penerapan undang-undang keamanan nasional.
Pada saat yang sama, ratusan demonstran pro-Palestina berkumpul di luar gedung pengadilan Old Bailey di London untuk menuntut pencabutan larangan terhadap Palestine Action. Mereka membawa spanduk, bendera Palestina, dan menyerukan perlindungan terhadap hak warga untuk melakukan aksi damai.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia juga menyuarakan kekhawatiran bahwa penggunaan undang-undang terorisme terhadap aktivis politik dapat menimbulkan dampak terhadap kebebasan sipil.
Meski menghadapi ancaman penangkapan dan proses hukum, Patel menegaskan dirinya akan terus menyuarakan dukungan kepada Palestina. Aktivis veteran tersebut menyatakan bahwa diam di tengah penderitaan warga sipil bukanlah pilihan.
Sikapnya menjadikan Said Patel salah satu figur yang paling dikenal dalam gerakan solidaritas Palestina di Inggris, khususnya di kalangan aktivis anti-perang dan pembela hak asasi manusia. (hanoum/arrahmah.id)
