RIYADH (Arrahmah.id) -- Citra satelit terbaru yang dirilis Cina menunjukkan puluhan pesawat tempur militer Amerika Serikat (AS) telah mendarat di pangkalan udara di Arab Saudi dan Yordania, termasuk jet siluman termasuk F-35 Lightning II, F-15, dan A-10, serta pesawat pendukung seperti EA-18 dan pesawat AWACS.
Gambar satelit yang diperoleh dari analis militer dan disebarkan oleh beberapa media internasional, seperti dilansir Militarnyi (21/2/2026), menunjukkan konsentrasi pesawat tempur AS di Prince Sultan Air Base di Saudi Arabia serta Muwaffaq Salti Air Base di Yordania. Setidaknya 60 hingga 66 jet tempur -tiga kali jumlah biasa- dilaporkan terlihat di wilayah tersebut.
Selain pesawat tempur, citra satelit juga menunjukkan meningkatnya kapal tanker dan pesawat logistik di pangkalan Saudi dan basis lain di kawasan sebagai bagian dari penguatan militer Amerika Serikat untuk kemungkinan kampanye udara jangka panjang. Peningkatan aset udara itu terjadi bersamaan dengan pengerahan 16 kapal perang dan hampir 40.000 personel militer AS ke wilayah Timur Tengah, menurut laporan Financial Times.
Konsentrasi pesawat tempur ini terjadi di tengah tekanan diplomatik dan ultimatum dari pemerintahan AS kepada pemerintah Iran terkait negosiasi nuklir. Spekulasi tentang operasi militer meningkat ketika beberapa pejabat AS menyatakan bahwa opsi militer tetap di atas meja jika diplomasi gagal, meskipun Gedung Putih secara resmi menegaskan bahwa diplomasi masih menjadi prioritas utama.
Penguatan kehadiran militer ini merupakan yang terbesar di wilayah itu dalam beberapa dekade, menurut Financial Times, dengan pertumbuhan signifikan kekuatan udara AS di pangkalan strategis Arab Saudi dan Yordania sejak pertengahan Februari. Para analis memperkirakan bahwa posisi jet tempur, terutama yang lebih dekat dengan perbatasan Iran, dapat digunakan baik untuk operasi pengeboman maupun penanggulangan serangan balasan jika konflik terbuka terjadi.
Reaksi dari Teheran terhadap laporan penempatan itu cukup tegas: pemerintah Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan militer terhadap wilayahnya akan dianggap sebagai agresi langsung, menimbulkan risiko eskalasi besar yang dapat melibatkan sekutu regional lainnya. (hanoum/arrahmah.id)
