Memuat...

“Washington Post”: Pejabat AS Bongkar—Menteri Perang Trump Diduga Sesatkan Presiden soal Iran

Samir Musa
Rabu, 8 April 2026 / 20 Syawal 1447 06:10
“Washington Post”: Pejabat AS Bongkar—Menteri Perang Trump Diduga Sesatkan Presiden soal Iran
Kekhawatiran di dalam pemerintahan Amerika terhadap penilaian Menteri Perang AS, Pete Hegseth, terkait kemampuan militer Iran. (AFP)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Kekhawatiran serius mengguncang internal pemerintahan setelah laporan terbaru dari mengungkap bahwa Menteri Perang Amerika Serikat, , diduga tidak menyampaikan informasi yang akurat kepada presiden terkait kemampuan militer Iran.

Dalam laporan yang dipublikasikan pada 7 April 2026, “Washington Post” mengutip sejumlah pejabat Amerika yang menyebut bahwa Hegseth “tidak menyampaikan kebenaran kepada presiden”, yang kemudian berdampak pada berulangnya pernyataan Trump yang dinilai mengandung informasi menyesatkan.

Selama ini, Hegseth kerap membanggakan superioritas udara Amerika dan meremehkan kemampuan Iran dalam melancarkan serangan rudal, terutama setelah klaim penghancuran fasilitas peluncuran dan gudang senjata dalam serangkaian serangan gabungan Amerika dan “Israel”.

Namun di lapangan, fakta berbicara lain. Sejak 28 Februari lalu, Iran terus melancarkan serangan tanpa henti ke wilayah “Israel” serta target-target Amerika di kawasan, membalik narasi yang selama ini dibangun Washington.

Penilaian Keliru dan Kontradiktif

Seorang pejabat AS yang diwawancarai menyebut bahwa mengukur kekuatan Iran hanya dari jumlah peluncuran rudal adalah “parameter yang bodoh”, sekaligus mengindikasikan adanya kesalahan serius dalam penilaian Hegseth.

Pejabat lain juga mengungkap adanya kekhawatiran mendalam bahwa klaim keberhasilan Amerika dalam menghancurkan program rudal dan drone Iran tidak sesuai dengan dokumen internal pemerintah.

Bahkan, dokumen yang beredar di internal disebut bertentangan langsung dengan pernyataan publik Hegseth, termasuk klaimnya pada akhir Maret bahwa intensitas serangan Iran menurun ke titik terendah—yang ternyata tidak akurat karena angka yang lebih rendah pernah tercatat sebelumnya.

Kekhawatiran Salah Perhitungan

Kekhawatiran tidak hanya berhenti pada klaim superioritas udara. Para pejabat juga menyoroti penilaian Hegseth terhadap efektivitas serangan terhadap program militer Iran, yang justru dianggap sebagai ancaman terbesar bagi kepentingan Amerika, “Israel”, dan sekutunya di kawasan.

Sejumlah laporan media Barat bahkan menilai gaya komunikasi Hegseth menyimpang dari tradisi Menteri Pertahanan AS sebelumnya, dengan kecenderungan mengabaikan aspek etika perang serta membawa nuansa militeristik dan ideologis yang dinilai “ekstrem”.

Retakan di Dalam Pentagon

Di tengah memanasnya situasi, konflik internal di Pentagon ikut mencuat. Menteri Angkatan Darat AS, Dan Driscoll, menegaskan tidak akan mengundurkan diri meski dilaporkan berselisih dengan Hegseth.

Ketegangan ini muncul setelah pemecatan mendadak sejumlah pejabat militer senior, termasuk Kepala Staf Angkatan Darat, .

Iran Masih Kuat, Strategi Berubah

Di sisi lain, laporan “Washington Post” menegaskan bahwa sistem pemerintahan Iran masih berdiri kokoh. Bahkan, Teheran disebut siap bernegosiasi dengan syarat-syarat berat, termasuk kendali penuh atas yang menjadi jalur vital energi dunia.

Lebih jauh, sumber intelijen mengungkap bahwa Iran kini mengubah taktik militernya—mengurangi intensitas serangan untuk menjaga persediaan senjata, sambil menunggu kelelahan logistik pihak Amerika dan “Israel”.

Menjelang Tenggat dan Ancaman Eskalasi

Semua perkembangan ini terjadi di saat-saat krusial, hanya beberapa jam sebelum tenggat ultimatum yang diberikan Trump kepada Iran terkait pembukaan Selat Hormuz atau menghadapi serangan militer besar-besaran.

Di saat yang sama, laporan media Amerika mengindikasikan adanya upaya diplomatik di menit-menit terakhir untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dan mencegah eskalasi yang lebih luas.

(Samirmusa/arrahmah.id)