KUDUS (Arrahmah.id) - Seorang pelajar di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menjadi sorotan publik setelah menyampaikan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden.
Aksi tersebut viral di media sosial dan menuai beragam respons dari warganet.
Pelajar tersebut diketahui bernama Mohammad Rafif Arsha Maulidi, siswa kelas XI SMK Miftahul Falah Cendono, Kecamatan Dawe. Surat terbuka yang ditulis Arsha menarik perhatian luas setelah beredar di berbagai platform digital.
Seiring viralnya tulisan tersebut, Arsha justru mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat. Diketahui pula bahwa surat terbuka itu dibuat dengan sepengetahuan serta persetujuan kedua orang tuanya.
Menanggapi situasi tersebut, Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Kudus melalui Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) melakukan langkah pendampingan.
Tim Dinsos bahkan telah mengunjungi sekolah dan rumah Arsha untuk memastikan kondisi pelajar tersebut tetap aman dan stabil secara psikologis.
“Kami sudah mendatangi sekolah dan bertemu dengan kepala sekolah serta Arsha. Dari hasil komunikasi, Arsha menyampaikan bahwa kondisinya baik-baik saja. Kedatangan kami bertujuan memastikan tidak ada ancaman, tekanan, atau hal-hal yang memengaruhi kondisi mentalnya,” ujar Kepala Bidang PPA, Yuni Saptorini, Selasa (7/4/2026).
Dinsos juga mengimbau pihak keluarga agar segera melapor jika terdapat indikasi gangguan, seperti intimidasi atau ancaman.
Pemerintah daerah menegaskan siap memberikan pendampingan agar Arsha tetap merasa aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Di sisi lain, keluarga Arsha menyampaikan dukungan penuh terhadap sikap kritis yang ditunjukkan putra mereka.
Ditemui di kediamannya di Kecamatan Bae, ibu Arsha, Yunita Arisanti, mengatakan bahwa anaknya sejak awal memiliki pandangan tersendiri terkait program MBG.
“Arsha selalu terbuka dengan kami, termasuk saat menulis surat tersebut. Ia berpendapat anggaran program MBG sebaiknya bisa dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Kami sebagai orang tua mengetahui dan mendukung,” ungkapnya.
Yunita juga menambahkan bahwa keluarga terus mengingatkan Arsha untuk tetap bijak dalam menyikapi berbagai komentar di media sosial.
Hal ini dinilai penting mengingat isu program MBG masih memicu pro dan kontra di tengah masyarakat.
Kasus ini menjadi perhatian publik sebagai contoh keberanian pelajar dalam menyampaikan aspirasi, sekaligus mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap anak dalam menyuarakan pendapat di ruang publik.
(ameera/arrahmah.id)
