ISTANBUL (Arrahmah.id) -- Otoritas Turki menangkap hampir 200 orang dalam operasi besar-besaran di berbagai wilayah negara itu setelah serangan bersenjata terhadap konsulat Israel di Istanbul, sebagai bagian dari upaya memberantas jaringan yang diduga terlibat dalam aksi teror tersebut.
Penangkapan dilakukan sehari setelah insiden penembakan pada 7 April 2026 di kawasan Levent, Istanbul, ketika tiga pria bersenjata menyerang aparat keamanan di sekitar gedung konsulat. Dalam baku tembak tersebut, satu pelaku tewas dan dua lainnya ditangkap dalam kondisi terluka, sementara dua polisi juga mengalami luka ringan.
Menteri Kehakiman Turki menyatakan bahwa operasi lanjutan dilakukan secara serentak di puluhan provinsi, dengan total sekitar 198 orang diamankan karena diduga memiliki kaitan dengan jaringan kelompok militan Islamic State (ISIS).
“Operasi terhadap organisasi teroris akan terus dilakukan secara menyeluruh dan tanpa kompromi,” ujar pejabat Turki dalam pernyataan yang dokutip dari Hurriyet Daily News (9/4/2026).
Menurut The New Arab, sebagian dari mereka yang ditangkap termasuk individu yang diduga terhubung langsung maupun tidak langsung dengan pelaku penyerangan. Beberapa tersangka telah ditahan untuk proses hukum lebih lanjut, termasuk dua pelaku yang terluka dan kini berada dalam pengawasan aparat.
Serangan terhadap konsulat 'Israel' sendiri terjadi sekitar pukul 12.15 waktu setempat dan berlangsung selama beberapa menit, ketika para pelaku melepaskan tembakan ke arah polisi sebelum akhirnya dilumpuhkan. Otoritas menyebut para penyerang memiliki keterkaitan dengan kelompok yang mengeksploitasi agama, yang merujuk pada jaringan radikal.
Hingga kini, belum ada kelompok yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, pemerintah Turki menegaskan bahwa penyelidikan masih terus berlangsung untuk mengungkap jaringan yang lebih luas di balik aksi tersebut.
Penangkapan massal ini menunjukkan respons cepat Ankara dalam menghadapi ancaman terorisme, sekaligus menandai meningkatnya kekhawatiran keamanan di tengah ketegangan regional yang melibatkan 'Israel', Iran, dan sekutunya. (hanoum/arrahmah.id)
