WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan penghentian serangan militer terhadap Iran selama dua pekan, terhitung mulai hari ini. Keputusan ini diambil sesaat sebelum berakhirnya ultimatum penghancuran total yang sebelumnya dilontarkan Trump, dengan syarat utama pembukaan kembali navigasi di Selat Hormuz.
Langkah sepihak Washington ini memicu spekulasi berakhirnya perang yang telah berlangsung selama enam minggu, meski laporan menyebutkan bahwa kesepakatan ini dicapai tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan pemerintah 'Israel'.
Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan telah menerima proposal 10 poin dari Teheran yang dianggap sebagai basis negosiasi yang layak. "AS telah mencapai dan melampaui seluruh target militer di Iran. Masa dua minggu ini akan digunakan untuk merampungkan kesepakatan damai jangka panjang," ujar Trump.
Di pihak lain, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut keputusan ini sebagai kemenangan historis. Teheran mengonfirmasi telah menerima penghentian permusuhan sementara ini atas saran Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei.
Tuntutan Iran dalam negosiasi mendatang meliputi penghentian perang total terhadap seluruh elemen poros perlawanan (Axis of Resistance), protokol navigasi Selat Hormuz di bawah koordinasi Iran, pencabutan sanksi ekonomi menyeluruh serta penarikan penuh pasukan AS dari wilayah Timur Tengah.
Gencatan senjata ini akan berlaku efektif segera setelah Iran membuka blokade Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa lintasan aman akan tersedia selama dua pekan ke depan melalui koordinasi teknis dengan militer Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) juga telah mengonfirmasi penerimaan perintah untuk menghentikan seluruh operasi militer terhadap Iran secara instan. Kedua belah pihak dijadwalkan bertemu dalam negosiasi langsung pertama mereka sejak perang pecah di Pakistan pada Jumat (10/4/2026) mendatang.
Kabar gencatan senjata ini memicu gelombang kejutan di Tel Aviv. Pejabat senior 'Israel' menyatakan terperangah karena hanya diberitahu mengenai detail kesepakatan yang kini wajib mereka jalankan.
Hingga saat ini, lembaga penyiaran resmi 'Israel' melaporkan bahwa militer mereka belum menerima instruksi resmi untuk menghentikan serangan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dijadwalkan menggelar rapat kabinet darurat hari ini untuk membahas posisi 'Israel' yang seolah ditinggalkan oleh sekutu utamanya dalam keputusan krusial ini. (zarahamala/arrahmah.id)
