TEL AVIV (Arrahmah.id) - Situasi di Timur Tengah kembali memanas pada Rabu (8/4/2026) dini hari setelah militer 'Israel' (IDF) melaporkan adanya gelombang serangan rudal baru yang diluncurkan dari Iran. Serangan ini terjadi hampir bersamaan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim adanya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan.
Komando Front Dalam Negeri 'Israel' mengaktifkan sirene bahaya di wilayah luas di bagian selatan 'Israel', Yerusalem, hingga wilayah tengah. Saksi mata melaporkan suara ledakan keras di langit Yerusalem yang berasal dari aktivitas sistem pertahanan udara Iron Dome dan Arrow saat mencegat proyektil-proyektil tersebut.
Serangan rudal ini menciptakan situasi yang membingungkan secara diplomatik. Hanya beberapa saat sebelumnya, Presiden Trump melalui platform media sosialnya menyatakan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan awal berdasarkan proposal 10 poin dari Iran.
"Sistem pertahanan kami sedang bekerja untuk mencegat ancaman rudal," tulis militer 'Israel' dalam pernyataan resminya tanpa merinci jumlah kerugian atau korban jiwa. Sementara itu, harian Yedioth Ahronoth mengonfirmasi bahwa target serangan Iran kali ini terkonsentrasi di pusat-pusat populasi dan wilayah strategis 'Israel'.
Dalam pengumuman sebelumnya, Trump menyatakan optimisme bahwa periode dua pekam yang ia berikan cukup untuk mencapai kesepakatan damai permanen. Ia mengklaim sebagian besar titik perbedaan antara AS dan Iran telah diselesaikan dan dirinya telah setuju untuk menghentikan pemboman terhadap infrastruktur Iran selama masa negosiasi tersebut.
Namun, serangan balasan terbaru dari Teheran ini menunjukkan adanya celah koordinasi atau ketidaksediaan faksi militer di lapangan untuk segera menghentikan permusuhan. Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, Iran konsisten membalas serangan udara AS-'Israel' yang telah menewaskan tokoh-tokoh kunci mereka, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Selain menargetkan 'Israel', Iran juga terus mengincar aset-aset yang mereka sebut sebagai "kepentingan Amerika" di negara-negara tetangga. Serangan-serangan tersebut telah memicu kecaman keras dari negara-negara Arab di kawasan karena jatuhnya korban sipil dan kerusakan fasilitas publik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih mengenai apakah serangan rudal terbaru ini akan membatalkan komitmen gencatan senjata dua pekan yang baru saja diumumkan oleh Presiden Trump. (zarahamala/arrahmah.id)
