YERUSALEM (Arrahmah.id) - Gelombang kecaman internasional mengalir deras setelah Menteri Keamanan Nasional 'Israel' yang beraliran sayap kanan ekstrem, Itamar Ben Gvir, kembali menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsha pada Senin (6/4/2026). Aksi provokatif ini terjadi di tengah kebijakan otoritas 'Israel' yang terus menutup akses masjid bagi jemaah Muslim selama lebih dari satu bulan.
Departemen Wakaf Islam di Yerusalem mengonfirmasi bahwa Ben Gvir memasuki area suci tersebut melalui Gerbang Mughrabi dengan pengawalan ketat pasukan keamanan. Ini merupakan aksi penyerbuan ke-15 yang dilakukan Ben Gvir sejak menjabat pada 2023.
Kecaman Keras dari Negara-Negara Regional
Sejumlah negara dan lembaga internasional mengeluarkan pernyataan resmi yang mengutuk tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional. Kementerian Luar Negeri Palestina menegaskan bahwa Al-Aqsha adalah tempat ibadah murni bagi umat Islam. Mereka menuduh 'Israel' mencoba memaksakan pembagian waktu dan ruang secara ilegal.
Doha menyebut aksi tersebut sebagai provokasi terhadap perasaan Muslim di seluruh dunia, sementara Kairo memperingatkan bahwa langkah ini adalah eskalasi berbahaya yang merusak status hukum Yerusalem Timur.
Sebagai pemegang mandat penjaga tempat suci di Yerusalem, Amman mengecam keras upaya Israel yang terus membatasi kebebasan beribadah bagi umat Islam.
Ankara menyatakan bahwa provokasi pemerintah Benjamin Netanyahu yang menargetkan identitas historis Al-Aqsa sama sekali tidak dapat diterima.
Hamas turut bereaksi dengan menyatakan bahwa penyerbuan Ben Gvir mencerminkan ambisi 'Israel' untuk melakukan Yahudisasi total terhadap situs suci tersebut. Tokoh senior Hamas, Abdul Rahman Shadid, menekankan bahwa tindakan ini adalah bentuk arogansi pendudukan yang sengaja menodai kesucian Al-Aqsha di saat warga Palestina dilarang masuk.
Liga Arab dalam pernyataannya memperingatkan dampak kebijakan ini terhadap stabilitas regional. Mereka menyerukan masyarakat internasional untuk segera bertindak guna melindungi tempat suci dan mengakhiri pendudukan.
Di saat ketegangan meningkat di Yerusalem, situasi di Tepi Barat juga kian mencekam. Pada Selasa (7/4), pasukan militer 'Israel' dilaporkan menyerbu kota Tubas di wilayah utara. Kendaraan militer dikerahkan ke jalan-jalan utama dan pemukiman warga, memicu ketegangan tinggi di tengah meningkatnya operasi militer sejak awal tahun.
Aksi kekerasan oleh pemukim ilegal dan serangan militer di Tepi Barat dilaporkan terus meningkat pesat sejak pecahnya perang besar pada Oktober 2023. 'Israel' memanfaatkan situasi perang untuk mempercepat ekspansi pemukiman, melakukan penangkapan massal, serta penggusuran paksa warga Palestina. (zarahamala/arrahmah.id)
