GAZA (Arrahmah.id) - Sedikitnya 10 warga Palestina tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam sebuah serangan mematikan yang menyasar kamp pengungsi Al-Maghazi, Jalur Gaza bagian tengah, pada Senin (6/4/2026). Insiden ini melibatkan serangan darat oleh kelompok milisi yang didukung militer 'Israel' terhadap fasilitas pengungsian warga sipil.
Sumber medis di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsha mengonfirmasi telah menerima jenazah para korban serta sejumlah besar korban luka akibat tembakan dan pengeboman yang terkonsentrasi di wilayah timur kamp tersebut.
Menurut laporan saksi mata dan rekaman yang beredar di media sosial, serangan bermula ketika sekelompok milisi bersenjata yang bergerak dari arah timur Garis Kuning menyerbu sebuah sekolah milik UNRWA yang menampung ribuan pengungsi.
Kelompok tersebut dilaporkan melakukan penembakan membabi buta dan menangkap sejumlah warga sipil. Bentrokan pecah saat warga setempat mencoba melakukan perlawanan terhadap kelompok milisi tersebut. Tak lama kemudian, militer 'Israel' (IDF) memberikan dukungan tembakan intensif dari tank dan jet tempur untuk melindungi kelompok milisi tersebut, yang mengakibatkan bertambahnya jumlah korban jiwa di pihak warga Palestina.
Insiden ini memicu gelombang kemarahan luas di kalangan warga Palestina. Para aktivis di lapangan mengeklaim bahwa penyerbuan tersebut dilakukan oleh kelompok antek atau kaki tangan militer 'Israel' yang bertugas melakukan operasi penculikan dan pembunuhan di dalam wilayah Gaza.
Munculnya nama Shawqi Abu Nasir dalam pengakuan yang beredar di media sosial menambah ketegangan. Abu Nasir diduga terlibat dalam operasi penghilangan nyawa sejumlah pemuda Gaza atas perintah militer 'Israel'. Warga menegaskan bahwa prioritas mereka saat ini, selain menghadapi pendudukan, adalah memberantas kelompok-kelompok internal yang bekerja sama dengan pihak lawan.
Para pengungsi di sepanjang "Garis Kuning" di timur Gaza melaporkan bahwa mereka menghadapi ancaman kematian setiap hari. Meski secara teknis berada dalam periode gencatan senjata, warga mengeklaim hampir tidak ada hari yang terlewati tanpa adanya insiden penembakan atau penculikan oleh geng bersenjata di bawah perlindungan IDF.
Data terbaru menunjukkan bahwa sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku, pelanggaran harian oleh militer 'Israel' telah menyebabkan 723 warga Palestina tewas dan 1.990 lainnya luka-luka. Situasi di Al-Maghazi kini menjadi simbol kerentanan warga sipil di tengah ketidakpastian implementasi kesepakatan damai di lapangan. (zarahamala/arrahmah.id)
