Memuat...

Ketegangan AS-Iran Memuncak, Serangan Militer Sasar Fasilitas Strategis di Berbagai Wilayah

Zarah Amala
Kamis, 16 Juli 2026 / 2 Safar 1448 11:16
Ketegangan AS-Iran Memuncak, Serangan Militer Sasar Fasilitas Strategis di Berbagai Wilayah
Gambar diam dari video Garda Revolusi Iran yang diduga menunjukkan rudal diluncurkan ke arah target AS di Bahrain dan Kuwait (AFP)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran melonjak tajam pada Kamis (16/7/2026), seiring dengan gelombang serangan udara AS yang terus berlanjut ke berbagai situs strategis Iran. Di saat yang sama, sejumlah negara di kawasan Teluk melaporkan adanya serangan drone dan rudal yang berasal dari wilayah Iran, memperluas cakupan konflik yang kini mengancam jalur pelayaran energi global.

Militer Kuwait mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah drone yang datang dari arah Iran. Di Bahrain, otoritas setempat membunyikan sirene tanda bahaya dan meminta warga segera mencari tempat perlindungan setelah militer melaporkan adanya serangan udara. Garda Revolusi Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, dengan dalih menargetkan fasilitas Armada Kelima AS di Bahrain.

Ketegangan serupa juga dilaporkan dari Yordania, di mana militer menyatakan telah menembak jatuh tiga rudal yang ditembakkan dari wilayah Iran. Sementara itu, media pemerintah Iran mengeklaim bahwa serangan drone mereka telah berhasil menyasar pangkalan udara Al-Azraq dan fasilitas militer di Yordania.

Operasi Militer AS di Iran

Pusat Komando AS (CENTCOM) meluncurkan gelombang serangan ketiga dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Operasi tersebut menargetkan sistem pertahanan pesisir, situs penyimpanan, dan peluncur rudal jelajah di Pulau Tonb Besar yang strategis. Serangan ini juga menyasar infrastruktur militer di Bandar Abbas, Bushehr, Ahvaz, Qeshm, dan Khurmuj dengan tujuan melumpuhkan kemampuan Iran dalam mengganggu lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz.

Militer Iran mengonfirmasi tujuh personelnya tewas dalam serangan di barak militer dekat Iranshahr. Selain itu, juru bicara pemerintah Iran menyatakan setidaknya 30 warga sipil tewas akibat gempuran AS dalam beberapa hari terakhir. Di sektor laut, AS juga mengklaim telah menghentikan sebuah kapal tanker yang mencoba melanggar blokade maritim yang diberlakukan Washington.

Perselisihan mengenai kontrol Selat Hormuz menjadi inti dari konflik ini. Teheran bersikeras akan tetap menutup jalur tersebut sampai Washington menerima apa yang mereka sebut sebagai sistem hukum Iran. Sebaliknya, Gedung Putih menegaskan bahwa selat tetap terbuka bagi arus minyak global.

Di tengah situasi ini, Garda Revolusi Iran memberi isyarat ancaman baru dengan potensi pembukaan front di Selat Bab el-Mandeb, jalur vital lainnya di Laut Merah, bekerja sama dengan kelompok Houthi di Yaman. Langkah ini dinilai analis sebagai taktik untuk menekan AS dan sekutunya di dua jalur perdagangan energi terpenting di dunia.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya saat ini sedang menjalani perang eksistensial dan tidak memiliki agenda negosiasi, dengan fokus utama pada pertahanan nasional.

Di pihak AS, Wakil Presiden JD Vance membela jalur diplomasi dengan menyatakan bahwa pengeboman tanpa akhir bukanlah solusi yang realistis dan era penggantian rezim melalui intervensi militer sudah berakhir. Namun, Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran agar segera kembali ke meja perundingan, atau menghadapi konsekuensi berat, termasuk potensi serangan terhadap infrastruktur vital seperti pembangkit listrik dan jembatan, meski ia tetap membuka pintu bagi dialog jika Iran menunjukkan iktikad baik. (zarahamala/arrahmah.id)