Memuat...

Hubungan Memanas, JD Vance Tuduh 'Israel' Sengaja Perpanjang Perang

Zarah Amala
Kamis, 16 Juli 2026 / 2 Safar 1448 11:45
Hubungan Memanas, JD Vance Tuduh 'Israel' Sengaja Perpanjang Perang
Wakil Presiden AS JD Vance saat wawancara dengan podcaster Joe Rogan. (Foto: Cuplikan video)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, melontarkan kritik keras terhadap sejumlah tokoh di dalam pemerintahan 'Israel'. Ia menuduh mereka berupaya memanipulasi opini publik Amerika dan menghambat upaya diplomatik yang bertujuan mengakhiri perang melawan Iran.

Dalam wawancara panjang dengan podcaster Joe Rogan yang dirilis Rabu (15/7/2026), Vance menegaskan bahwa Washington telah mengonfirmasi adanya pihak-pihak di dalam sistem politik 'Israel' yang secara aktif bekerja untuk mempertahankan konfrontasi militer tanpa batas waktu.

"Ada orang-orang di dalam sistem mereka, yang kami tahu tanpa keraguan sedikit pun, sedang memanipulasi dan mencoba mengubah opini publik Amerika demi menjaga agar perang terus berlangsung tanpa henti," ujar Vance.

Vance menuduh kelompok tersebut tidak mendukung tindakan militer untuk mencapai tujuan yang jelas, melainkan sengaja ingin memperpanjang perang. Ia juga merujuk pada laporan bahwa dana ratusan juta dolar telah dialokasikan oleh 'Israel' untuk kampanye pengaruh di Amerika Serikat, yang menurutnya digunakan untuk menyabotase perjanjian damai yang ia upayakan.

"Ketika saya melihat adanya kampanye pengaruh asing yang didanai untuk menjatuhkan kesepakatan yang sedang saya perjuangkan, dan banyak dari orang yang menerima uang itu justru menyerang saya dengan cara yang tidak jujur, respons saya adalah: 'Pergilah ke neraka'," tegasnya.

Pernyataan Vance menandai kritik publik yang sangat langsung dari seorang pejabat senior pemerintahan Trump terhadap 'Israel'. Hal ini menyoroti keretakan yang semakin dalam antara Washington dan Tel Aviv mengenai masa depan perang serta prospek negosiasi ulang dengan Teheran.

Vance sendiri memegang peran kunci dalam perundingan kerangka gencatan senjata sementara dengan Iran bulan lalu. Ia secara konsisten membela diplomasi sebagai satu-satunya cara yang layak untuk mengakhiri konflik.

Di sisi lain, pemerintahan Trump juga menunjukkan rasa frustrasi terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Washington menilai beberapa tindakan militer 'Israel' telah merusak negosiasi yang sedang diupayakan. Vance bahkan sempat menegur anggota pemerintah 'Israel' bulan lalu dengan mengatakan, "Jika saya berada di kabinet pemerintahan 'Israel', saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang tersisa di seluruh dunia."

Komentar tajam Vance muncul di tengah memburuknya kerangka gencatan senjata antara Washington dan Teheran, yang kini terancam akibat serangan baru AS, operasi balasan Iran, serta pemberlakuan kembali blokade maritim.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa saat ini tidak ada negosiasi yang dijadwalkan dan Teheran sepenuhnya memusatkan perhatian pada pertahanan nasional. Ia menegaskan bahwa komitmen Iran tetap bergantung pada implementasi timbal balik dari pihak Amerika.

Konfrontasi yang kembali memanas ini melibatkan serangkaian serangan udara AS terhadap kota-kota pesisir dan infrastruktur Iran, yang dibalas dengan serangan rudal dan drone Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan tersebut.

Menurut pengamat, perbedaan prioritas menjadi inti dari perselisihan ini: sebagian kepemimpinan Israel mendesak perluasan kampanye militer, sementara sebagian pemerintahan Trump berusaha mempertahankan peluang penyelesaian melalui jalur negosiasi. Pernyataan Vance mengonfirmasi bahwa perbedaan pendapat ini kini telah menjadi perjuangan terbuka mengenai kebijakan AS, pengaruh 'Israel', dan arah masa depan perang tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)