Memuat...

Dampak Perang: Arus Logistik Selat Hormuz Lumpuh 92%, Harga Pangan dan Energi Asia Melonjak 143%

Zarah Amala
Rabu, 3 Juni 2026 / 18 Zulhijah 1447 14:46
Dampak Perang: Arus Logistik Selat Hormuz Lumpuh 92%, Harga Pangan dan Energi Asia Melonjak 143%
Kapal-kapal di Selat Hormuz dekat Bandar Abbas (AFP)

DOHA (Arrahmah.id) - Jalur perlintasan maritim di Selat Hormuz dilaporkan masih mengalami kelumpuhan ekstrem hingga 92 persen sejak meletusnya konfrontasi bersenjata antara Amerika Serikat-'Israel' melawan Iran tiga bulan lalu. Berdasarkan laporan investigasi dari Unit Analisis Data Al Jazeera pada Rabu (3/6/2026), kondisi ini tetap bertahan meskipun kesepakatan gencatan senjata telah memasuki bulan kedua.

Sebelum pecahnya perang, Selat Hormuz komitmen memfasilitasi navigasi kapal tanker yang membawa hingga 20 juta barel minyak mentah per hari. Namun, akibat risiko keamanan yang tinggi, volume pasokan tersebut merosot tajam dan kini hanya tersisa sekitar 2,2 juta barel per hari.

Penyusutan volume distribusi secara drastis ini berdampak langsung pada guncangan pasar energi internasional secara masif.  Absennya pasokan dari Teluk Persi memicu meroketnya harga minyak mentah global sebesar 27 persen dibandingkan harga normal sebelum perang.

Berdasarkan laporan jurnalis Al Jazeera Abdullah Sukkar, volume komoditas LNG yang berhasil melewati Selat Hormuz selama tiga bulan terakhir amblas hingga 93 persen. Arus pengapalan anjlok menjadi kurang dari 600.000 ton per bulan, dari yang semula mampu mencapai lebih dari 8 juta ton per bulan (setara 20 persen total produksi dunia).

Dampak kelumpuhan ini merembet dari sektor energi ke jalur logistik kebutuhan dasar masyarakat dunia. Data yang dirilis oleh Kantor Berita Reuters menunjukkan bahwa indeks harga pangan, tarif listrik, dan biaya operasional rantai pasok melambung tinggi hingga 143 persen di benua Asia.

Sektor agrikultur global juga ikut terpukul akibat terhambatnya arus distribusi bahan baku pangan. Data dari Asosiasi Pupuk Internasional (IFA) mencatat bahwa perlintasan komoditas pupuk melalui Selat Hormuz yang semula berada di angka 1,54 juta ton per bulan, kini merosot 75 persen menjadi hanya 380.000 ton per bulan.

Meskipun berada di tengah bayang-bayang blokade ekstrim dan eskalasi perang, analisis data dari Al Jazeera mencatat bahwa sebanyak 825 kapal tanker tetap nekat melintasi rute berbahaya di Selat Hormuz sejak konflik bersenjata tersebut meletus. Dari total pergerakan armada tersebut, sebanyak 299 kapal terpantau memasuki kawasan Teluk, sedangkan 526 kapal lainnya tercatat berhasil keluar, meskipun 115 unit di antaranya terpaksa berlayar dalam kondisi lambung kosong (empty vessels).

Jika dibedah berdasarkan klasifikasi muatannya, dari 526 kapal yang berhasil keluar dari zona konflik tersebut, mayoritas didominasi oleh 203 kapal tanker minyak mentah. Selain itu, arus lalu lintas laut ini juga membawa komoditas energi dan logistik penting lainnya, yang meliputi 81 kapal tanker gas alam cair (LNG), 53 kapal pengangkut produk turunan minyak, serta 74 kapal kargo yang mengangkut berbagai produk komoditas campuran.

Dari total 526 armada kapal yang berhasil keluar dari zona konflik selama periode perang ini, hanya 62 kapal yang berani mengambil rute Alur Laut Kepulauan Internasional (jalur resmi), sedangkan 464 kapal lainnya memilih rute alternatif demi menghindari titik koordinat radar pertahanan pantai dan potensi serangan militer. (zarahamala/arrahmah.id)